(Puasa Lapar Perut, atau Puasa Hati dan Lisan?).
Assalamualaikum Warrahmatullah Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita, Muhammad ﷺ, keluarga dan sahabat beliau.
Kadang kita jumpai, bahkan mungkin diri kita sendiri…
Sudah puasa, tapi masih gampang emosi.
Sudah menahan lapar, tapi belum menahan amarah.
Padahal pertanyaannya sederhana:
Yang puasa itu perut kita saja… atau juga hati kita?
1️⃣ Puasa Itu Bukan Sekadar Lapar
Rasulullah ﷺ bersabda:
Dalil Arab:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
Latin:
Rubba shā`imin laisa lahu min shiyāmihi illā al-jū‘u wal-‘athasy.
Artinya:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.”
(HR. Ahmad)
Artinya apa?
Kalau lisannya masih tajam, emosinya masih meledak-ledak, akhlaknya tidak berubah… bisa jadi yang puasa hanya fisiknya.
2️⃣ Kalau Marah, Katakan: “Saya Sedang Puasa”
Rasulullah ﷺ bersabda:
Dalil Arab:
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
Latin:
Fa idzā kāna yaumu shaumi ahadikum falā yarfuts walā yashkhab, fa in sābbahu ahadun aw qātalahu falyaqul: innī shā’im.
Artinya:
“Jika salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa itu latihan pengendalian diri.
Bukan hanya menahan makan, tapi menahan reaksi.
3️⃣ Marah Itu Dari Setan
Rasulullah ﷺ bersabda:
Dalil Arab:
إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ
Latin:
Innal ghadaba minasy-syaithān.
Artinya:
“Sesungguhnya marah itu dari setan.”
(HR. Abu Dawud)
Bayangkan…
Kita sedang puasa ingin mendekat kepada Allah,
Tapi justru membuka pintu setan lewat amarah.
Contoh Real di Kehidupan
✅ Di Rumah
Sudah jam 4 sore. Lapar. Anak ribut.
Biasanya langsung bentak:
“Diam kamu! Ayah lagi puasa!”
Padahal yang salah siapa? Anak atau lapar kita?
Seharusnya puasa membuat kita berkata lembut: “Nak, ayah lagi capek. Yuk pelan-pelan ya.”
✅ Di Jalan
Lagi macet menjelang buka. Ada motor serobot.
Biasanya: klakson panjang + emosi.
Kalau ingat hadits tadi:
Dalam hati bilang, “Saya sedang puasa.”
Puasa itu rem.
Kalau mobil tanpa rem, bahaya.
Orang tanpa kendali emosi, lebih bahaya.
✅ Di Kantor
Sudah haus, kerjaan numpuk, bawahan salah sedikit langsung meledak.
Padahal bisa jadi Allah sedang menguji: “Kamu ini benar puasa atau cuma menahan makan?”
Kenapa Puasa Harus Menenangkan?
Karena tujuan puasa adalah takwa.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:
Dalil Arab:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ ... لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Latin:
Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām… la‘allakum tattaqūn.
Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”
Takwa itu pengendalian diri.
Kalau masih gampang marah, berarti latihan takwanya belum lulus.
Penutup
Kalau sebelum Ramadhan kita mudah marah, Tapi setelah 10 hari, 20 hari, bahkan 30 hari… masih sama… Berarti yang berubah cuma jadwal makan kita, belum hati kita.
Mari kita jadikan puasa bukan sekadar menahan lapar,
Tapi menahan ledakan amarah.
Karena bisa jadi…
Orang yang paling berat puasanya bukan yang paling lapar,
Tapi yang paling sabar.
Semoga Allah menjadikan puasa kita bukan hanya lapar dan haus,
Tapi puasa yang menghaluskan hati dan menenangkan jiwa.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 🤲
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh






No comments:
Post a Comment