Pengantar
Technology
Games
Friday, November 5, 2021
Saturday, May 1, 2021
Monday, January 18, 2021
[PKK] KD 3.5. Menganalisis Proses Kerja Pembuatan Prototype Produk Barang/Jasa
A. Tujuan Kegiatan Pembelajaran
Setelah selesai mempelajari modul ini siswa diharapkan mampu memahami :
1.
Proses Kerja Prototype
2.
Bentuk Prototype
3.
Proses Pembuatan Prototype
4.
Alat Perancangan Sistem
B. Uraian Materi
Sebagai bentuk dasar
produk, prototipe memiliki bagian yang ukuran dan bahan sama seperti jenis
produk yang akan dibuat tetapi tidak harus difabrikasi dengan proses sebenarnya
ditujukan untuk pengetesan untuk menentukan apakah produk bekerja sesuai desain
yang diinginkan dan apakah produk memuaskan kebutuhan pelanggan. Prototipe
seperti ini disebut alphaprototype ada juga yang
disebut beta prototype yang dibuat dengan bagian yang disuplai
oleh proses produksi sebenarnya, tetapi tidak rakit dengan proses akhir
ditujukan untuk menjawab pertanyaan akan performance dan ketahanan uji untuk
menemukan perubahan yang perlu pada produk final.
1)
Proses Kerja Prototype
a.
Pendefinisian produk: merupakan penerjemahan
konsep teknikal yang berhubungan dengan kebutuhan dan perilaku konsumen kedalam
bentuk perancangan termasuk aspek hukum produk dan aspek hukum yang melibatkan
keamanan dan perlindungan terhadap konsumen.
b.
Working model: dibuat tidak harus
mempresentasikan fungsi produk secara keseluruhan dan dibuat pada skala yang
seperlunya saja untuk membuktikan konsep dari pembuatan produk dan menemukan
hal-hal yang tidak sesuai dengan konsep yang telah dibuat. Working model juga
dibangun untuk menguji parameter fungsional dan membantu perancangan prototipe
rekayasa.
c.
Prototipe rekayasa (engineering
prototype): dibuat seperti halnyaworking model namun mengalami
perubahan tingkat kompleksitas maupun superioritas dari working model, dibangun
mencapai tingkat kualitas teknis tertentu agar dapat diteruskan menjadi prototipe
produksi atau untuk dilanjutkan pada tahapan produksi.
d.
Prototipe rekayasa ini dibuat untuk keperluan
pengujian kinerja operasional dan kebutuhan rancangan sistem produksi.
e.
Prototipe produksi (production
prototype): bentuk yang dirancang dengan seluruh fungsi operasional untuk
menentukan kebutuhan dan metode produksi dibangun pada skala sesungguhnya dan
dapat menghasilkan data kinerja dan daya tahan produk dan part-nya.
f.
Qualified production item: dibuat dalam skala
penuh berfungsi secara penuh dan diproduksi pada tahap awal dalam jumlah kecil
untuk memastikan produk memenuhi segala bentuk standar maupun peraturan yang
diberlakukan terhadap produk tersebut biasanya untuk diuji-cobakan kepada umum.
g.
Untuk mematangkan produk yang hendak diproduksi
secara komersil, maka produk perlu memasuki pasar untuk melihat ancaman-ancaman
produk yang terjadi; misal: keamananan, regulasi, tanggung jawab, ketahanan dan
kerusakan (wear–and–tear), pelanggaran, siklus break even dan
polusi, dan konsekuensinya diperlukan peningkatan program pemasaran.
h.
Model: merupakan alat peraga yang mirip produk
yang akan dibangun (look–like–models). Secara jelas menggambarkan bentuk dan
penampilan produk baik dengan skala yang diperbesar, 1:1, atau diperkecil untuk
memastikan produk yang akan dibangun sesuai dengan lingkungan produk maupun
lingkungan user.
i.
Prototipe adalah bentuk efektif dalam
mengkomunikasikan konsep produk namun jangan sampai menyerupai bentuk produk
sebenarnya karena mengandung resiko responden akan menyamakannya dengan produk
akhir.
2)
Bentuk Prototype
Berdasarkan
karakteristiknya prototipe sebuah sistem dapat berupa low fidelity dan high
fidelity. Fidelity mengacu kepada tingkat kerincian sebuah sistem (Walker et
al, 2003). Low fidelity prototype tidak terlalu rinci menggambarkan sistem.
Karakteristik dari low fidelity prototype adalah mempunyai fungsi atau
interaksi yang terbatas, lebih menggambarkan kosep perancangan dan layout
dibandingkan dengan model interaksi, tidak memperlihatkan secara rinci
operasional sistem, mendemostrasikan secara umum feel and look dari antarmuka
pengguna dan hanya menggambarkan konsep pendekatan secara umum (Walker et al,
2003).
Prototipe ini mempunyai
interaksi penuh dengan pengguna dimana pengguna dapat memasukkan data dan
berinteraksi dengan dengan sistem, mewakili fungsi-fungsi inti sehingga dapat
mensimulasikan sebagian besar fungsi dari sistem akhir dan mempunyai penampilan
yang sangat mirip dengan produk sebenarnya (Walker et al, 2003).
Fitur yang akan diimplementasikan
pada prototipe sistem dapat dibatasi dengan teknik vertikal atau horizontal.
Vertical prototype mengandung fungsi yang detail tetapi hanya untuk beberapa
fitur terpilih, tidak pada keseluruhan fitur sistem. Horizontal prototype
mencakup seluruh fitur antarmuka pengguna namun tanpa fungsi pokok hanya berupa
simulasi dan belum dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya
(Walker et al, 2003).
3)
Proses Pembuatan Prototype
Proses pembuatan prototipe
merupakan proses yang interaktif dan berulang-ulang yang menggabungkan
langkah-langkah siklus pengembangan tradisional. Prototipe dievaluasi beberapa
kali sebelum pemakai akhir menyatakan protipe tersebut diterima. Gambar di bawah
ini mengilustrasikan proses pembuatan prototipe :
Langkah-Langkah Prototyping
1.
Analisis Kebutuhan Sistem
Pembangunan sistem informasi memerlukan penyelidikan dan analisis
mengenai alasan timbulnya ide atau gagasan untuk membangun dan mengembangkan
sistem informasi. Analisis dilakukan untuk melihat berbagai komponen yang
dipakai sistem yang sedang berjalan meliputi hardware, software, jaringan dan
sumber daya manusia.
Analisis juga mendokumentasikan aktivitas sistem informasi meliputi
input, pemrosesan, output, penyimpanan dan pengendalian (O'Brien, 2005).
Selanjutnya melakukan studi kelayakan (feasibility study) untuk merumuskan
informasi yang dibutuhkan pemakai akhir, kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat
dan kelayakan proyek yang diusulkan (Mulyanto, 2009).
Analisis kebutuhan sistem sebagai bagian dari studi awal bertujuan
mengidentifikasi masalah dan kebutuhan spesifik sistem. Kebutuhan spesifik
sistem adalah spesifikasi mengenai hal-hal yang akan dilakukan sistem ketika
diimplementasikan (Mulyanto, 2009).
Analisis kebutuhan sistem harus mendefinisikan kebutuhan sistem yang
spesifik antara lain :
1)
Masukan yang diperlukan sistem (input)
2)
Keluaran yang dihasilkan (output)
3)
Operasi-operasi yang dilakukan (proses)
4)
Sumber data yang ditangani
5)
Pengendalian (kontrol)
Spesifikasi Kebutuhan Sistem
Tahap analisis kebutuhan sistem memerlukan evaluasi untuk mengetahui
kemampuan sistem dengan mendefinisikan apa yang seharusnya dapat dilakukan oleh
sistem tersebut kemudian menentukan kriteria yang harus dipenuhi sistem.
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi adalah pencapaian tujuan,
kecepatan, biaya, kualitas informasi yang dihasilkan, efisiensi dan
produktivitas, ketelitian dan validitas dan kehandalan atau reliabilitas
(Mulyanto, 2009).
2.
Desain Sistem
Analisis sistem (system analysis) mendeskripsikan apa yang harus
dilakukan sistem untuk memenuhi kebutuhan informasi pemakai.
Desain sistem (system design) menentukan bagaimana sistem akan
memenuhi tujuan tersebut. Desain sistem terdiri dari aktivitas desain yang
menghasilkan spesifikasi fungsional.
Desain sistem dapat dipandang sebagai desain interface, data dan proses
dengan tujuan menghasilkan spesifikasi yang sesuai dengan produk dan metode
interface pemakai, struktur database serta pemrosesan dan prosedur pengendalian
(Ioanna et al., 2007).
Desain sistem akan menghasilkan paket software prototipe, produk yang
baik sebaiknya mencakup tujuh bagian :
1)
Fitur menu yang cepat dan mudah.
2)
Tampilan input dan output.
3)
Laporan yang mudah dicetak.
4)
Data dictionary yang menyimpan informasi pada
setiap field termasuk panjang field, pengeditan dalam setiap laporan dan format
field yang digunakan.
5)
Database dengan format dan kunci record yang
optimal.
6)
Menampilkan query online secara tepat ke data yang
tersimpan pada database.
7)
Struktur yang sederhana dengan bahasa pemrograman
yang mengizinkan pemakai melakukan pemrosesan khusus, waktu kejadian, prosedur
otomatis dan lain-lain.
3.
Pengujian Sistem
Paket software prototipe diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan
dimodifikasi berulang-ulang hingga dapat diterima pemakainya (O'Brien, 2005).
Pengujian sistem bertujuan menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada
sistem dan melakukan revisi sistem.
Tahap ini penting untuk memastikan bahwa sistem bebas dari kesalahan
(Mulyanto, 2009).
Menurut Sommerville (2001) pengujian sistem terdiri dari :
1)
Pengujian unit untuk menguji komponen individual
secara independen tanpa komponen sistem yang lain untuk menjamin sistem operasi
yang benar.
2)
Pengujian modul yang terdiri dari komponen yang
saling berhubungan.
3)
Pengujian sub sistem yang terdiri dari beberapa
modul yang telah diintegrasikan.
4)
Pengujian sistem untuk menemukan kesalahan yang
diakibatkan dari interaksi antara subsistem dengan interfacenya serta
memvalidasi persyaratan fungsional dan non fungsional.
5)
Pengujian penerimaan dengan data yang dientry oleh
pemakai dan bukan uji data simulasi.
6)
Dokumentasi berupa pencatatan terhadap setiap
langkah pekerjaan dari awal sampai akhir pembuatan program.
Pengujian sistem informasi berbasis web dapat menggunakan teknik dan
metode pengujian perangkat lunak tradisional. Pengujian aplikasi web meliputi
pengujian tautan, pengujian browser, pengujian usabilitas, pengujian muatan, tegangan
dan pengujian malar (Simarmata, 2009).
Penerimaan pengguna (user) terhadap sistem dapat dievaluasi dengan
mengukur kepuasan user terhadap sistem yang diujikan. Pengukuran kepuasan
meliputi tampilan sistem, kesesuaian dengan kebutuhan user, kecepatan dan
ketepatan sistem untuk menghasilkan informasi yang diinginkan user. Ada
beberapa model pengukuran kepuasan user terhadap sistem, diantaranya adalah
Technology Acceptance Model (TAM), End User Computing (EUC) Satisfaction, Task
Technology Fit (TTF) Analysis dan Human Organizational Technology (HOT)
Fit Model.
Salah satu model pengukuran yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa
bahasa berbeda dan tidak menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan
adalah End User Computing (EUC) Satisfaction. Model ini menekankan kepuasan
user terhadap aspek teknologi meliputi aspek isi, keakuratan, format, waktu dan
kemudahan penggunaan sistem (Chin & Mathew, 2000).
4.
Implementasi
Setelah prototipe diterima maka pada tahap ini merupakan implementasi
sistem yang siap dioperasikan dan selanjutnya terjadi proses pembelajaran
terhadap sistem baru dan membandingkannya dengan sistem lama, evaluasi secara
teknis dan operasional serta interaksi pengguna, sistem dan teknologi
informasi.
4)
Alat Perancangan Sistem
Perancangan sistem
membutuhkan peralatan berupa alat alat perancangan proses dan alat
perancangan data. Alat perancangan proses terdiri dari diagram aliran data dan
diagram arus sistem. Sedangkan alat perancangan data terdiri dari diagram
relasi entitas (entity relationship) dan kamus data (data dictionary).
a.
Diagram Aliran Data
Diagram aliran data (data flow diagram/DFD) adalah sebuah alat
dokumentasi grafik yang menggunakan simbol-simbol untuk menjelaskan sebuah
proses. Diagram ini menunjukkan aliran proses seluruh sistem kepada pemakai dan
dapat diatur detailnya sesuai dengan kemampuan pemahaman pemakai.
DFD terdiri dari tiga elemen yaitu lingkungan, pemrosesan, aliran data
dan penyimpanan data. Salah satu keuntungan menggunakan DFD adalah memudahkan
pemakai yang kurang menguasai bidang komputer untuk mengerti sistem yang sedang
akan dikerjakan (Ladjamudin, 2005).
b.
Diagram Arus Sistem
Diagram arus sistem (Sistem Flow chart) adalah peralatan yang digunakan
untuk menggambarkan proses sistem secara rinci untuk menggambarkan aliran
sistem informasi dan diagram arus sistem untuk menggambarkan aliran program
(Ladjamudin, 2005).
c.
Diagram Relasi Entitas
Diagram relasi entitas menunjukkan antar entitas satu dengan yang lain
dan bentuk hubungannya sehingga data tergabung dalam satu kesatuan yang
terintegrasi (Ladjamudin, 2005).
d.
Kamus Data
Kamus data adalah penjelasan tertulis lengkap dari data yang diisikan ke
dalam database (Ladjamudin, 2005).
Wednesday, October 14, 2020
Modul 5. MENGANALISIS PROSES KERJA PEMBUATAN PROTOTYPE PRODUK BARANG/JASA
A. Kompetensi Dasar
3.5. Menganalisis proses kerja pembuatan
prototype produk barang/
B.
Indikator
Pencapaian Kompetensi
3.5.1. Memahami Tahapan-tahapan Pembuatan
prototype produk barang/jasa
3.5.2. Mengidentifikasi keunggulan dan
kelemahan prototype
3.5.3. Menentukan Proses kerja pembuatan
prototype produk barang/jasa
3.5.4. Menganalisis proses kerja pembuatan
prototype produk barang/jasa
4.5.1. Membuat alur dan proses kerja pembuatan
prototype produk barang/jasa
C.
Materi
Prototipe produk (purwa–rupa produk)
adalah bentuk dasar dari sebuah produk merupakan tahapan yang sangat penting
dalam rencana pembuatan produk karena menyangkut keunggulan produk yang akan
menentukan kemajuan suatu usaha di masa mendatang.
Tahapan Pembuatan Prototype Dan Kemasan Produk
Barang/Jasa
Tahapan
prototype sebelum mendesain produk barang atau jasa ada beberapa tahapan yang
harus diperhatikan, yakni sebagai berikut :
a)
Pendefenisian
produk
Merupakan penerjemahan konsep
teknikal yang berhubungan dengan kebutuhan dan perilaku konsumen kedalam bentuk
perancangan termasuk aspek hukum yang melibatkan keamanan dan perlindungan
terhadap konsumen.
b)
Working Model
Dibuat tidak harus mempresentasikan
fungsi produk secara keseluruahan dan di buat pada skala yang sepelunya saja
untuk membuktikan konsep dari pembuatan produk, dan menenmukan hal-hal yang
tidak sesuai dengan konsep yang telah di buat.Working model juga dibangun untuk
menguji parameter fungsional dan membantu perancangan prototype rekayasa.
c)
Prototipe rekayasa
(engineering prototype)
Dibuat seperti halnya working model,
namun mengalami perubahan tingkat kompleksitas maupun superioritas dari
working model, dibangun mencapai tingkat
kualitas teknis tertentu agar dapat diteruskan menjadi prototype produksi atau
untuk dilanjutkan pada tahap produksi. Prototype rekayasa ini dibuat untuk keperluan
pengujian kinerja opersioanal dan kebutuhan rancangan system produksi.
d)
Prototipe produksi
(production prototype)
Bentuk yang dirancang dengan seluruh
fungsi operasional untuk menentukan kebutuhan dan metode produksi dibangun pada
skala sesungguhnya dan dapat menghasilkan data kinerja dan daya tahan produk
dan partnya.
e)
Qualifield
production item
Dibuat dalam skala penuh berfungsi
secara penuh dan diproduksi pada tahap awal dalam jumlah kecil untuk memastikan
produk memenuhi segala bentuk standar maupun peraturan yang diberlakukan
terhadap produk tersebut biasanya untuk diuji-cobakan kepada umum.
Untuk mematangkan produk yang hendak
diproduksi secara komersil, maka produk perlu memasuki pasar untuk melihat
ancaman-ancaman produk yang terjadi; misal: keamananan, regulasi, tanggung
jawab, ketahanan dan kerusakan (wear–and–tear), pelanggaran, siklus breakeven
dan polusi, dan konsekuensinya diperlukan peningkatan program pemasaran.
f)
Model
Model merupakan alat peraga yang
mirip produk yang akan dibangun (look– like–models). Secara jelas menggambarkan
bentuk dan penampilan produk baik dengan skala yang diperbesar, 1:1, atau
diperkecil untuk memastikan produk yang akan dibangun sesuai dengan lingkungan
produk maupun lingkungan user.
Proses Kerja Pembuatan Prototype Produk Barang Atau
Jasa
Diagram Alur Proses Produksi (Production Flow Chart
Diagram)
Diagram alur proses produksi ini
harus dibuat secara jelas terlebih dahulu sebelum suatu proses produksi
dijalankan. Berdasarkan diagram alur proses produksi tersebutlah pengetesan dan
monitoring atas barang dalam proses produksi (work in process) harus dilakukan
agar produk akhir bermutu sesuai dengan rencana. Seandainya timbul variasi mutu
pun, tingkat toleransinya dari penyimpan masih dalam batas-batas yang dapat
diterima. Artinya, melalui tes-tes pada berbagai tahapan proses produksi harus
dilakukan agar bila terjadi komponen atau barang yang cacat (defect) dapat
segera diketahui untuk segera ditindak lanjuti. Masing-masing jenis industri
manufaktur mempunyai diagram alur proses produksi yang berbeda satu sama lain
karena produk yang harus dihasilkan berbeda. Bahkan untuk produk yang sejenis
pun, diagram alur proses produksinya belum tentu persis sama karena
masing-masing mempunyai ciri khas atau spesifikasi sendiri-sendiri.
Diagram alur proses produksi yang
berbeda produk, misalnya diagram alur proses produksi tekstil sama sekali
berbeda dengan diagram alur proses produksi pembuatan obat-obatan (farmasi).
Akan tetapi, walaupun sama-sama industri manufaktur farmasi (obat-obatan),
diagram alur proses produksinya dapat berbeda, misalnya yang satu berbentuk
tablet, sedangkan yang lain berbentuk cair.
Prosedur pengawasan mutu produk
Pengawasan
atas mutu suatu barang hasil produksi, seyogyanya meliputi pengetahuan
hal-hal
berikut :
1.
Kerusakan dan Mutu Produk
Seperti telah dijelaskan bahwa suatu
barang (jasa) dibuat melalui suatu proses. Proses pembuatan tersebut
disesuaikan dengan bentuk dan mutu barang yang ingin dihasilkan.
2.
Mencegah atau
Menghindarkan Terjadinya Kerusakan Barang (produk)
Kiat utama dari pencegahan kerusakan
suatu produk sebenarnya sangat sederhana saja, yakni kerusakan harus dicegah
sebelum terjadi.
3.
Kendali Mutu Terpadu
Uraian di atas menunjukkan bahwa
mencegah terjadinya kerusakan produk selama proses produksi, berarti mengadakan
suatu rangkaian kegiatan terpadu dalam pengendalian mutu. Bila ada pengendalian
atau controlling atas mutu tentunya harus dimulai sejak perencanaan (planning)
mutu produk bersangkutan. Antara tahap perencanaan dan tahap seperti
pengorganisasian (organizing) dan pelaksanaan (actuating) harus disertai
pengawasan mutu. Hal ini memberi gambaran bahwa manajemen mutu (quality
management) meliputi berbagai apsek keikutsertaan (participation) dari berbagai
pihak di dalam perusahaan yang menghasilkan suatu produk yang mutunya harus
dikendalikan.
Jenis-jenis pengawasan mutu produk
1.
Pemantauan Mutu
Bahan-Bahan
Apakah bahan baku yang digunakan
sesuai dengan mutu yang direncanakan? Hal ini perlu diamati sejak rencana
pembelian bahan, penerimaan bahan di gudang, penyimpanan di gudang, sampai
dengan saat bahan baku tersebut akan digunakan.
2.
Pemantauan Proses
Produksi
Bahan baku yang telah diterima di
gudang, selanjutnya akan diproses dalam mesin-mesin produksi untuk diolah
menjadi barang jadi. Dalam hal ini, selain cara kerja peralatan produksi yang
mengolah bahan baku dipantau, juga hasil kera mesin-mesin tersebut dipantau
agar menghasilkan barang sesuai yang direncanakan.
3.
Pemantauan Produk
Jadi
Pemeriksaan atas hasil produksi jadi
untuk mengetahui apakah produk sesuai dengan rencana ukuran dan mutu atau
tidak. Sekaligus untuk mengetes mesin yang mengolah selama proses produksi.
Bila produk atau produk setengah jadi sesuai dengan bentuk, ukuran, dan mutu
yang direncanakan maka produk-produk tersebut dapat digudangkan.
Selanjutnya
dipasarkan (didistribusikan). Namun bila terdapat barang yang cacat maka barang
tersebut harus dibuang atau remade dan mesin perlu disetel kembali agar
beroperasi secara akurat.
4.
Pemantauan
Pengepakan
Bungkus dapat merupakan alat untuk
melindungi barang agar tetap dalam kondisi sesuai dengan mutu.
Metode statistik diketahui telah
digunakan sejak lama dalam rangka membantu perusahaan dalam masalah tertentu yang
kompleks. Walaupun demikian, metode statistik sebenarnya mempunyai ketentuan
tertentu dalam pelaksanaannya. Suatu hal yang perlu diketahui adalah bahwa
dalam industri ternyata statistik merupakan salah satu alat untuk pengendalian
mutu, termasuk dalam pencegahan kerusakan barang (defect prevention).
Ø Menghitung
jumlah kerusakan barang dalam proses produksi.
Ø Kerusakan
atau cacatnya barang, sebenamya merupakan akibat terjadinya penyimpangan
(variasi atau deviasi) dalam proses produksi. Metode statistik dapat memberi
gambaran tentang penyimpangan-penyimpangan tersebut.
Secara umum dari metode statistik
dapat diperoleh suatu gambaran tentang data sampel yang dianalisis. Gambar
tersebut dapat memberikan visualisasi dengan jelas tentang data tersebut
sehingga dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan (kerusakan) atau tidak.
Dari
hal pengendalian mutu, peranan seorang supervisor mutu sangat berperan terutama
dalam hal mengumpulkan data statistik, menganalisis, dan menyimpulkannya.
Seorang supervisor mutu dapat memberikan informasi yang cepat dan tepat kepada
pihak manajemen tentang hasil produk, apakah di bawah atau sesuai dengan
standar mutu yang direncanakan.
Alat kendali mutu
Dengan
Statistic Quality Control diperoleh alat bantu kendali mutu berupa diagram dan
histogram.
1.
Diagram Pengendati
Mutu (Quality Control Chart)
Dari tiap jenjang dalam DAP, Anda,
dapat membuat suatu rencana kerja pemantauan agar produk yang dihasilkan sesuai
dengan mutu yang direncanakan. Pada tahap ini Anda, membuat suatu control chart
(diagram pengendali) yang dapat digunakan untuk memperoleh gambar atau diagram
sebab akibat (DSA) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Cause and
Effect Diagram (CED).
2.
Histogram
Dari diagram kontrol (diagram
kendali) yang dik:umpulkan secara statistik pada berbagai tahap atau jenjang
kegiatan, Anda, kemudian dapat membuat suatu histogram mutu. Bila terdapat
penyimpangan, Anda akan mengetahui berapa besar penyimpangannya dan faktor apa
yang menyebabkannya. Selanjutnya, mungkin perlu dibuat suatu tindakan koreksi
atau. perbaikan.
3.
Peranan Komputer
Secara umum dapat dikemukakan di sini
bahwa berbagai kegiatan pengendalian, terutama pada perusahaan besar,
seyogianya menggunakan program komputer sesuai dengan kebutuhan.
Tetapi,
patut Anda ketahui bahwa komputer hanyalah merupakan alat bantu analisis.
Adapun faktor yang penting dalam pengendalian mutu adalah manusia.
Berdasarkan karakteristiknya
prototipe sebuah sistem dapat berupa low fidelity dan high fidelity. Fidelity
mengacu kepada tingkat kerincian sebuah sistem (Walker et al, 2003). Low
fidelity prototype tidak terlalu rinci menggambarkan sistem. Karakteristik dari
low fidelity prototype adalah mempunyai fungsi atau interaksi yang terbatas,
lebih menggambarkan kosep perancangan dan layout dibandingkan dengan model interaksi,
tidak memperlihatkan secara rinci operasional sistem, mendemostrasikan secara
umum feel and look dari antarmuka pengguna dan hanya menggambarkan konsep
pendekatan secara umum (Walker et al, 2003).
Prototipe ini mempunyai interaksi
penuh dengan pengguna dimana pengguna dapat memasukkan data dan berinteraksi
dengan dengan sistem, mewakili fungsi-fungsi inti sehingga dapat mensimulasikan
sebagian besar fungsi dari sistem akhir dan mempunyai penampilan yang sangat
mirip dengan produk sebenarnya (Walker et al, 2003).
Fitur yang akan diimplementasikan
pada prototipe sistem dapat dibatasi dengan teknik vertikal atau horizontal.
Vertical prototype mengandung fungsi yang detail tetapi hanya untuk beberapa
fitur terpilih, tidak pada keseluruhan fitur sistem. Horizontal prototype
mencakup seluruh fitur antarmuka pengguna namun tanpa fungsi pokok hanya berupa
simulasi dan belum dapat digunakan untuk melakukan pekerjaan yang sebenarnya
(Walker et al, 2003).
Kita
bisa menganalisis kegiatan prototyping berdasarkan empat dimensi sebagai
berikut :
a.
Dimensi Representasi, Dimensi Representasi
berarti menggambarkan bentuk prototype, misalnya potongan lis dan panel gypsum,
potongan dempul, dan lainnya.
b.
Dimensi Presisi, Dimensi Presisi
menggambarkan tingkat ketelitian prototype yang akan dievaluasi; Dalam dimensi
tersebut, bentuknya kasar atau halus.
c.
Dimensi Interaktif, Dimensi Interaktif
menggambarkan sejauh mana hubungan antara konsumen dengan prototype yang dibuat
oleh seorang wirausaha. Misalnya, apakah pihak pembeli menyukai layanan dan
produk kreatif yang ditawarkan.
d.
Dimensi Evolusi, Dimensi Evolusi
menggambarkan prediksi siklus hidup dari suatu prototype, misalnya prototype
tersebut bersifat sekali pakai atau permanen.
Tahap-tahap dalam prototyping boleh
dikatakan merupakan tahap-tahap yang dipercepat. Strategi utama dalam
Prototyping adalah kerjakan yang mudah terlebih dahulu dan sampikan hasil
kepada pengguna sesegera mungkin.
Prototyping
dibagi ke dalam enam tahapan sebagai berikut :
a.
Mengidentifikasi model
prototype. Dalam bagian ini, pihak wirausahawan menjadi mengerti apa saja yang
ada di dalam badan usaha yang mereka buat.
b.
Rancang bangun prototype.
Dalam rancang bangun bisa dibantu oleh seperangkat computer serta software CASE
(Computer-Aided System Engineering) supaya bisa mendesain produk yang baru dan
kompeten.
c.
Uji prototype untuk
memastikan prototype dapat dengan mudah dijalankan untuk tujuan demonstrasi.
d.
Siapkan prototype USD
(User’s System Diagram) untuk mengidentifikasi bagian-bagian dari produk yang
di- prototype-kan.
e.
Evaluasi dengan pengguna
untuk mengevaluasi prototype dan melakukan perubahan jika diperlukan.
f.
Tranformasikan prototype
menjadi produk nyata dan dibutuhan konsumen sebagai sebuah sampel atau contoh.
Faktor-faktor Penentu dalam Proses Strategi Pembuatan
Prototype
Berikut
ini disajikan berbagai faktor-faktor yang ada di dalam strategi prototyping :
1.
Prototyping bisa berupa
subsistem, serangkaian dari beberapa subsistem, atau keseluruhan sistem
Kita
akan membuat sistem yang besar, mungkin hal terbaik yang bisa dilakukan adalah
memecahnya menjadi subsistem-subsistem yang lebih kecil yang masing-masing
subsistem dapat dianalisis berdasarkan strategi yang paling optimal.
2.
Melakukan Prototyping
atas bermacam-macam konsep dengan melakukan Prototyping atas satu konsep
Ketika
hanya ada satu atau dua konsep produk saja yang memungkinkan besar akan dipilih
untuk dikembangkan, perkembangan prototype dalam jumlah banyak pada masa awal
akan memberikan umpan balik penting bagi perancang.
3.
Pembuatan prototype bisa
dilakukan oleh pihak luar atau dilakukan oleh seorang wirausaha itu sendiri
Melakukan
penyerahan urusan pembuatan produk hanya kepada pihak luar dapat membengkakkan
biaya dan waktu sehingga lebih baik dibuat sendiri.
4.
Fisik pada suatu
prototype dapat dibuat ukuran skala
Ketika
kita sedang berurusan dengan produk yang berukuran besar, seperti pilar untuk
bangunan rumah bertingkat, kita tidak akan mungkin membuat prototype yang sama
ukurannya dengan produk akhirnya (kecuali untuk keperluan uji akhir). Oleh
karena itu, kita bisa membuat skala fisiknya untuk mengetes aspek-aspek
tertentu dalam desain produk tersebut atau bisa dibuat prototype potongan yang
bisa disambung saat pembangunannya.
5.
Hasil akhir suatu bentuk
usaha dapat dibuat skala lewat prototype
Mungkin
merupakan suatu hal yang bagus apabila perancang dapat merancang prototype yang
mampu mencakup beberapa persyaratan desain dalam satu waktu. Hal ini bertujuan
agar perancang dapat membuat evaluasi atas fitur yang diharapkan ada pada
produk tersebut. Dengan adanya skala fungsi, perancang akan merasa lebih mudah
dalam menguji prototype dan produk final yang memiliki sifat lebih kuat.
Referensi :
Pengikut
Video Rotasi & Evolusi Bumi
Arsip Blog
-
▼
2026
(140)
- 07/19 - 07/26 (1)
- 07/12 - 07/19 (6)
- 07/05 - 07/12 (5)
- 06/28 - 07/05 (5)
- 06/21 - 06/28 (5)
- 06/14 - 06/21 (2)
- 06/07 - 06/14 (3)
- 05/31 - 06/07 (1)
- 05/24 - 05/31 (4)
- 05/17 - 05/24 (6)
- 05/10 - 05/17 (5)
- 05/03 - 05/10 (6)
- 04/26 - 05/03 (6)
- 04/19 - 04/26 (3)
- 04/12 - 04/19 (5)
- 04/05 - 04/12 (7)
- 03/29 - 04/05 (4)
- 03/22 - 03/29 (1)
- 03/15 - 03/22 (5)
- 03/08 - 03/15 (5)
- 03/01 - 03/08 (6)
- 02/22 - 03/01 (8)
- 02/15 - 02/22 (6)
- 02/08 - 02/15 (9)
- 02/01 - 02/08 (5)
- 01/25 - 02/01 (4)
- 01/18 - 01/25 (3)
- 01/11 - 01/18 (8)
- 01/04 - 01/11 (6)
-
►
2025
(52)
- 12/28 - 01/04 (10)
- 12/21 - 12/28 (9)
- 12/14 - 12/21 (4)
- 12/07 - 12/14 (5)
- 11/30 - 12/07 (4)
- 11/23 - 11/30 (6)
- 11/16 - 11/23 (7)
- 11/09 - 11/16 (2)
- 11/02 - 11/09 (1)
- 10/26 - 11/02 (1)
- 08/24 - 08/31 (1)
- 08/17 - 08/24 (1)
- 05/11 - 05/18 (1)
-
►
2024
(23)
- 06/16 - 06/23 (3)
- 06/09 - 06/16 (1)
- 06/02 - 06/09 (7)
- 05/26 - 06/02 (4)
- 04/28 - 05/05 (3)
- 03/24 - 03/31 (1)
- 03/17 - 03/24 (4)
-
►
2023
(167)
- 12/24 - 12/31 (21)
- 12/17 - 12/24 (3)
- 12/03 - 12/10 (4)
- 11/19 - 11/26 (2)
- 11/12 - 11/19 (5)
- 11/05 - 11/12 (5)
- 10/29 - 11/05 (7)
- 10/22 - 10/29 (5)
- 10/15 - 10/22 (7)
- 10/08 - 10/15 (4)
- 10/01 - 10/08 (6)
- 09/24 - 10/01 (4)
- 09/17 - 09/24 (2)
- 09/10 - 09/17 (5)
- 09/03 - 09/10 (4)
- 08/27 - 09/03 (3)
- 08/20 - 08/27 (5)
- 08/13 - 08/20 (5)
- 08/06 - 08/13 (3)
- 07/30 - 08/06 (6)
- 07/23 - 07/30 (3)
- 07/16 - 07/23 (5)
- 07/09 - 07/16 (4)
- 07/02 - 07/09 (6)
- 06/25 - 07/02 (7)
- 06/18 - 06/25 (3)
- 06/11 - 06/18 (6)
- 05/21 - 05/28 (6)
- 05/14 - 05/21 (7)
- 05/07 - 05/14 (7)
- 04/30 - 05/07 (6)
- 01/22 - 01/29 (1)
-
►
2022
(2)
- 10/30 - 11/06 (1)
- 05/29 - 06/05 (1)
-
►
2021
(44)
- 10/31 - 11/07 (1)
- 09/12 - 09/19 (4)
- 08/22 - 08/29 (8)
- 08/15 - 08/22 (3)
- 08/08 - 08/15 (1)
- 08/01 - 08/08 (1)
- 07/04 - 07/11 (1)
- 06/06 - 06/13 (3)
- 05/23 - 05/30 (1)
- 05/16 - 05/23 (1)
- 04/25 - 05/02 (1)
- 03/14 - 03/21 (1)
- 02/07 - 02/14 (1)
- 01/31 - 02/07 (3)
- 01/17 - 01/24 (9)
- 01/03 - 01/10 (5)
-
►
2020
(30)
- 12/27 - 01/03 (2)
- 12/13 - 12/20 (2)
- 12/06 - 12/13 (1)
- 11/29 - 12/06 (1)
- 11/15 - 11/22 (2)
- 10/25 - 11/01 (1)
- 10/11 - 10/18 (2)
- 09/20 - 09/27 (19)
-
►
2019
(20)
- 12/29 - 01/05 (2)
- 09/29 - 10/06 (9)
- 09/22 - 09/29 (2)
- 09/15 - 09/22 (2)
- 08/11 - 08/18 (1)
- 07/21 - 07/28 (2)
- 03/24 - 03/31 (1)
- 01/13 - 01/20 (1)
-
►
2018
(11)
- 12/09 - 12/16 (1)
- 07/29 - 08/05 (2)
- 06/03 - 06/10 (2)
- 02/11 - 02/18 (2)
- 02/04 - 02/11 (3)
- 01/28 - 02/04 (1)
-
►
2017
(3)
- 07/23 - 07/30 (1)
- 07/16 - 07/23 (1)
- 01/15 - 01/22 (1)
-
►
2016
(24)
- 12/25 - 01/01 (1)
- 11/13 - 11/20 (1)
- 10/30 - 11/06 (2)
- 10/16 - 10/23 (1)
- 10/09 - 10/16 (1)
- 08/21 - 08/28 (1)
- 08/07 - 08/14 (1)
- 07/24 - 07/31 (3)
- 06/26 - 07/03 (2)
- 05/22 - 05/29 (5)
- 05/08 - 05/15 (2)
- 02/28 - 03/06 (1)
- 02/21 - 02/28 (1)
- 02/14 - 02/21 (1)
- 01/24 - 01/31 (1)
-
►
2015
(60)
- 12/13 - 12/20 (1)
- 09/27 - 10/04 (1)
- 09/20 - 09/27 (1)
- 09/06 - 09/13 (5)
- 08/30 - 09/06 (4)
- 08/09 - 08/16 (2)
- 08/02 - 08/09 (4)
- 07/26 - 08/02 (37)
- 07/19 - 07/26 (1)
- 07/12 - 07/19 (4)
Terjemahkan
Pengunjung
Popular Post
-
Terkadang kita merasa telah banyak berbuat baik untuk islam dan kaum muslimin, kita merasa telah melakukan sesuatu untuk membela Allah, Rasu...
-
Melihat wajah Allah Ta’ala di surga adalah kenikmatan terbesar yang akan diperoleh seorang mukmin. Orang-orang yang beriman akan melihat waj...






Comments