Slider

Slider
teguhpriyanto. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Pengantar

Ini blog bisnis dan pendidikan...
Mohon bantuannya untuk koreksi dan perbaikan serta tambahan materi....
Jangan lupa untuk like blog ini dengan cara klik G+ warna biru...
Mari berkembang dan maju bersama...terima kasih

Technology

Technology

Games

Games

Saturday, June 13, 2026

4 Indikator Takwa Menurut Ali bin Abi Thalib

*Indikator pertama* adalah memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah swt dan meyakini seluruh ketentuan atau takdir-Nya.

Orang yang bertakwa adalah orang yang yakin dengan keberadaan Allah swt. Ia percaya bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya merupakan bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah dan kebaikan. 


*Indikator kedua* adalah kesediaan untuk mengamalkan ajaran yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Segala petunjuk yang dibawa Rasulullah saw hendaknya diamalkan. Dengan demikian, ajaran Islam tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan. 


*Indikator ketiga* adalah memiliki sifat qanaah dan sabar terhadap segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT, baik sedikit maupun banyak.  

Qanaah bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima dengan syukur apa yang Allah berikan setelah berikhtiar semaksimal mungkin. Sedikit maupun banyak, semuanya patut disyukuri. 


*Indikator keempat* adalah senantiasa menghitung diri dan mempersiapkan diri menghadapi datangnya kematian.

Kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia. Karena itu, setiap orang hendaknya selalu melakukan muhasabah dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah SWT.  


Ya Allah Yang Maha Benar, kuatkan ketaqwaan kami, kel, shbt dan kel.nya.... Aamiin

Wednesday, June 10, 2026

Meraih Ridho Allah SWT dengan Lelah Kita

1. Lelah dalam berjihad di jalan Allah SWT. 

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS Taubah: 111).


2. Lelah dalam berdakwah menyampaikan syiar agama sesuai ajaran alquran dan hadits Rasul.

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat Ayat: 33).


3. Lelah dalam beribadah dengan kunci niat karena Allah SWT.

Beribadah juga bukan sekedar shalat, berpuasa, berzakat dan membaca alquran namun dengan bekerja mencari nafkah untuk kehidupan keluarga itu sudah dinilai sebagai ibadah.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Ankabut: 69).


4. Lelahnya seorang ibu mengandung.

Ridha dan cinta Allah SWT mengalir kepada seorang wanita yang berjuang penuh kesabaran dan tulus dalam menjaga kandungannya meskipun terasa berat dan lelah.

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14).


5. Lelah dalam mencari nafkah yang halal.

"Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al Jumuah: 10).


6. Lelah mengurus keluarga. 

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS A-Tahrim: 6).


7. Lelah dalam menuntut ilmu.

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yangb Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS Ali Imran: 79).


8. Lelah dalam kesusahan, kekurangan dan sakit.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah post gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah: 155).


Ya Allah Yang Maha Mulia, jadikan lelah² kami,kel,shbt dan kel nya bisa mendapat ridho-Mu..Aamiin.

Tuesday, June 9, 2026

SATU TANDA TANGAN DI DUNIA, SATU PERTANGGUNGJAWABAN DI AKHIRAT

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang penuh keberkahan ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ada profesi yang sehari-hari pekerjaannya terlihat sederhana: membaca berkas, memeriksa dokumen, menulis akta, memberikan pendapat hukum, lalu membubuhkan tanda tangan.

Tetapi sesungguhnya, di balik satu tanda tangan itu bisa berpindah rumah, berpindah tanah, berpindah perusahaan, berpindah hak waris, bahkan berubah nasib sebuah keluarga.

Karena itu, seorang mukmin harus selalu mengingat:

"Satu tanda tangan di dunia, satu pertanggungjawaban di akhirat."

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Innallāha ya'murukum an tu'addul-amānāti ilā ahlihā.

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)

Jabatan, profesi, stempel, dan tanda tangan pada hakikatnya adalah amanah.

Mungkin di dunia tidak ada yang mengetahui bagaimana sebuah dokumen diproses.

Mungkin tidak ada yang tahu ada tekanan, ada iming-iming, atau ada kepentingan tertentu.

Tetapi Allah mengetahuinya.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Wallāhu 'alā kulli syai'in syahīd.

"Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." (QS. Al-Mujadilah: 6)


Ketika manusia lupa, Allah tidak lupa.

Ketika arsip hilang, catatan Allah tidak pernah hilang.

Ketika saksi meninggal, Allah tetap menjadi saksi.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kullukum rā'in wa kullukum mas'ūlun 'an ra'iyyatihi.

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang notaris akan ditanya tentang amanah akta yang dibuatnya.

Seorang advokat akan ditanya tentang kebenaran yang dibelanya.

Seorang pejabat akan ditanya tentang keputusan yang ditandatanganinya.

Seorang pemimpin akan ditanya tentang kebijakan yang dikeluarkannya.

Bahkan seorang ayah akan ditanya tentang surat-surat dan harta yang ditinggalkannya untuk anak-anaknya.

Di lapangan sering terjadi hal-hal yang tampaknya kecil, tetapi akibatnya sangat besar.

Ada ahli waris yang kehilangan hak karena dokumen yang tidak benar.

Ada tanah sengketa puluhan tahun karena satu data yang tidak jujur.

Ada orang miskin kehilangan rumah karena permainan administrasi.

Ada keluarga yang pecah karena pembagian warisan yang direkayasa.

Mungkin semua tampak selesai di dunia. Tetapi belum selesai di akhirat.

Sebab Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Man ghasysyanā falaisa minnā.

"Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami." (HR. Muslim)

Ada kisah yang sering terjadi.

Seseorang menerima sejumlah uang agar mempercepat atau meloloskan sebuah proses.

Ia berpikir: "Ini hanya tanda tangan."

Padahal baginya hanya satu goresan pena.

Tetapi bagi orang lain bisa menjadi hilangnya hak, hilangnya keadilan, bahkan hilangnya masa depan.

Karena itu para ulama berkata: "Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat."

Tangan yang hari ini menandatangani dokumen akan menjadi saksi di hadapan Allah.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ

Al-yauma nakhtimu 'alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami." (QS. Yasin: 65)

Bayangkan...

Jika suatu hari tangan yang biasa kita gunakan untuk membubuhkan tanda tangan itu berbicara di hadapan Allah.

Ia menceritakan semua yang pernah kita lakukan.

Yang benar maupun yang tidak benar.

Yang jujur maupun yang curang.

Yang ikhlas maupun yang karena suap.


Maka sebelum menandatangani apa pun, biasakan bertanya kepada hati:

"Apakah saya berani mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah?"

Jika jawabannya ragu, berhentilah. Karena kehilangan uang bisa dicari kembali. Kehilangan jabatan bisa diganti. Tetapi kehilangan keberkahan hidup sangat sulit dicari penggantinya.

Mari jadikan profesi kita sebagai jalan menuju surga, bukan jalan menuju penyesalan.

Karena pada akhirnya bukan banyaknya stempel yang akan menyelamatkan kita.

Bukan banyaknya klien yang akan menyelamatkan kita.

Bukan banyaknya perkara yang kita menangkan.

Tetapi kejujuran, amanah, dan ketakwaan yang kita bawa menghadap Allah.

Semoga Allah menjadikan tangan-tangan kita sebagai tangan yang menulis kebaikan, menegakkan keadilan, dan membawa keberkahan bagi banyak manusia.

Aamiin aamiin aamiin yaa robbal'alamin 


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.