Pada dasarnya, amalan yang dilakukan seorang hamba selayaknya tidak diumbar. Cukup ia dan Rabb-nya yang mengetahui perbuatan baiknya. Apalagi jika ia merasa khawatir akan terjatuh dalam riya’ atau sum’ah. Namun ada beberapa keadaan yang menjadikan seseorang diperbolehkan menceritakan amalnya, diantaranya sebagai berikut:
*1.Menjawab Pertanyaan Guru atau Orang Tua*
Dalam rangka mengajarkan kebaikan, terkadang seorang guru, dai ataupun orang tua menanyakan kepada muridnya tentang amalan yang ia kerjakan.
Abu Hurairah meriwayatkan sebuah kisah yang cukup menarik. Suatu hari Rasulullah saw bersabda, “Siapa di antara kalian yang berpuasa hari ini?”
Maka Abu Bakar radhiyallah ‘anhu menjawab, “Aku.”
“Siapakah di antara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” beliau bertanya kembali.
“Aku,” jawabnya lagi.
“Siapakah di antara kalian yang memberi makan orang miskin pada hari ini?”
“Aku.”
“Siapakah di antara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?”
“Aku.”
Rasulullah saw lalu bersabda, “Tidaklah amal-amal ini terhimpun dalam diri seseorang melainkan dia akan masuk surga.” (HR. Muslim)
*2.Mengajak Orang Lain Untuk Beramal*
Apabila ia menampakkan amalan dalam rangka memotivasi orang lain untuk beramal.
*3. Mengajarkan Tata Cara Suatu Amalan*
Apabila seseorang berada di komunitas yang masih awam terhadap perkara agama, sehingga mereka belum mengetahui tatacara ibadah maka orang tersebut perlu menampakkan amalannya dalam rangka pengajaran. Begitu pula tidak mengapa ia menceritakan amalannya seperti umrah atau yang semacamnya dalam rangka mengajarkan tata caranya.
Bentuk pengajaran Rasulullah saw terhadap para sahabat beliau, dimana kerap kali beliau mencontohkan suatu bentuk amalan kemudian meminta para sahabat untuk mengikuti tatacara peribadatan beliau.
*4. Mencegah Kezhaliman Orang Lain*
Di antara dalilnya adalah sabda Nabi shalallahu‘alaihi wa sallam ketika menghadapi Dzul Khuwaisirah yang menuduh beliau tidak adil dalam pembagian ganimah, “Kalau keadilan tidak berasal dariku, lalu dari siapa?”
Menyebutkan kebaikan diri atau amalan yang selama ini tidak diketahui orang lain terkadang dapat mencegah terjadinya kezhaliman orang lain terhadap pelaku amal. Hal itu disebabkan seseorang yang berlaku zhalim terkadang mengira dia di atas kebenaran dan sedang menumpas keburukan, padahal ia salah dalam memahami keadaan orang yang akan dia zhalimi.
Ya Allah Yang Maha Mengawasi, berilah kekuatan kpd kami, kel, shbt dan kel nya untuk tetap menjaga hatinya dari berbagai bentuk kesyirikan dan berhati-hati dari tipu daya syaithan... Aamiin.






Comments