Dalam memahami pahala dari Allah, jangan pernah memakai cara hitungan matematis yang saklek.
Karenanya pahala Allah jangan dihitung dengan cara pandang kita.
Karenanya ketika anda merasa amalannya terbaik dari satu sisi, belum tentu disisi lain.
Yang pasti Allah Maha adil. Dan jangan lupa keadilan-Nya itu terbangun di atas asas cinta dan kasih-Nya. Pada akhirnya lakukan "muhasabah" tanpa "menghisab" (orang lain).
Muhasabah itu introspeksi diri. Sementara menghisab itu artinya menghakimi orang lain.
Dan tak kalah pentingnya, syurga itu tidak berpintu tunggal. Fokus saja pada diri dan jalan menuju Allah. Biarlah Allah yang mengkalkulasi dengan caraNya.
Di alam akhirat kelak, Allah SWT akan memperhitungkan amal kita (hisab). Setiap kebaikan sekecil apa pun akan dicatat dan diberi ganjaran dan keburukan sekecil apa pun akan dicatat dan diberi balasan berupa adzab-Nya (QS 99: 7-8).
Dalam ayat lain ditegaskan: ''Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan, jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)-nya. Dan, cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan (QS Al Anbiya: 47).
Ya Allah Yang Maha Awal, berilah kekuatan kpd untuk beramal dan berbuat kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak.. Aamiin






No comments:
Post a Comment