Slider

Slider
teguhpriyanto. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Pengantar

Ini blog bisnis dan pendidikan...
Mohon bantuannya untuk koreksi dan perbaikan serta tambahan materi....
Jangan lupa untuk like blog ini dengan cara klik G+ warna biru...
Mari berkembang dan maju bersama...terima kasih

Technology

Technology

Games

Games

Wednesday, September 23, 2020

Modul 15. Mengevaluasi kesesuaian hasil produk dengan rancangan

A.      Kompetensi Dasar 

1.15.        Mengevaluasi kesesuaian hasil produk dengan rancangan 

B.       Indikator 

3.15.1. Menjelaskan kesesuaian hasil produk dengan rancangan 

3.15.2. Menganalisis kesesuaian hasil produk dengan rancangan 

C.      Materi Pokok 

Cara evaluasi dapat dilakukan secara manual, untuk mempermudah maka kita hanya melakukan sampling saja terhadap produk yang sudah selesai dibuat. 

Dengan adanya evaluasi tersebut seorang wirausaha dapat memutuskan apakah rencana yang sudah dibuat berjalan sesuai dengan rencana atau tidak. Apabila produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan rancangan maka perlu diambil langkah lebih lanjut untuk mengatasinya. Contoh jenis usaha yang memerlukan adanya tahapan evaluasi ini dalah usaha yang bergerak pada bidang kerajinan atau membuat barang jadi. Karena kualitas barang dagangan menjadi factor penentu kepuasan pelanggan kita. 

Hal yang paling esensial dalam pengembangan sebuah startup adalah tentang produk dan diterimanya produk tersebut di pasaran. Untuk memastikan laju kesuksesan sebuah startup, pelaku bisnis harus dapat secara efektif menentukan, mengembangkan, dan menghasilkan produk sesuai dengan yang segmentasi ditargetkan. 

Kesuksesan tidak harus dating menunggu sebuah ide atau produk dilahirkan secara sempurna, namun secara perlahan produk dan pasar akan terbentuk ketika pelaku bisnis mampu mengidentifikasi kebutuhan di pangsa pasar. Pada akhirnya produk yang dikembangkan dapat memfasilitasi kebutuhan tersebut. 

Salah satu bagian yang patut dipersiapkan dalam memulai sebuah startup adalah menjaga kecepatan dan ritme setelah sukses pada penjualan awal. Tak jarang ketika pertama produk diluncurkan, antusias cukup terbentuk, tapi justru makin melemah setelah berjalannya waktu. Proses penemuan product market-fit (produk sesuai dengan kebutuhan pasar yang berkembang) perlu untuk digaungkan. 

Ada 3 (tiga) hal yang menetukan kesesuaian produk dalam pangsa pasar :

1.         Mengembangkan Profil Pelanggan Ideal 

Dengan mengetahui profil pelanggan ideal, startup akan lebih mudah untuk membidik target pasar. 

 

2.         Jalin komunikasi 

Untuk mendapatkan insight berharga, melakukan komunikasi dengan pelanggan atau calon pengguna potensial sangat penting dilakukan. Dari proses komunikasi ini biasanya proses dan pengembangan ke depan suatu produk dapat dirumuskan. Proses ini dapat dijalankan dengan komunikasi secara langsung, melalui wawancara email ataupun survei. 

Dari hasil komunikasi ini, pastikan pertanyaan yang diajukan mewakili keseluruhan dari proses penggunaan produk. Dari bagaimana produk tersebut ditemukan, apa yang menarik dari produk tersebut, kesulitan penggunaan, hingga hal-hal yang diinginkan untuk menjadi suplemen dalam pembaruan berikutnya. 

3.         Lakukan analisis 

Setelah mendapatkan catatan cari hasil komunikasi, umpan balik yang didapatkan harus benar-benar dimanfaatkan untuk mempermudah dalam merealisasikan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Beberapa alat seperti CRM bias digunakan untuk mendukung dalam proses ini. Atau lakukan pemetaan secara sederhana dengan model win/lose. 

Memetakan hasil komunikasi sesuai dengan profil kontak sangat penting. Profil tersebut bisa dicari secara mandiri seperti melalui LinkedIn jika sebelumnya informasi tentang komuniksi dengan pelanggan itu tidak membuahkan identitas secara mendetil. 

Dalam melakukan tiga hal di atas, pastikan untuk focus pada proses, bukan hasilnya. Dengan melakukan proses demi proses dengan baik, apa yang dihasilkan pun akan mengikuti. Tiga hal tersebut bukanlah sebuah hal yang hanya cukup dilakukan sekali, melakukannya secara berulang dengan membubuhkan perbaikan akan memberikan dampak yang lebih baik pada terciptanya sebuah produk yang diminati. 

Nah, jadi sebenarnya ketiga prosesi di atas tujuan akhirnya akan membawa bisnis pada profil pelanggan yang jelas dan mengidentifikasi masalah yang perlu diperbaiki. Proses pembelajaran ini penting, karena hal utama dalam penyesuaian sebuah produk tak lain adalah dengan melibatkan pengguna atau orang yang membutuhkan produk tersebut. 


Referensi lain :

3.11. Menentukan indikator keberhasilan tahapan produksi massal

3.12. Menerapkan proses produksi massal

3.13. Menerapkan metoda perakitan produk barang/jasa

3.14. Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

3.15. Mengevaluasi kesesuaian hasil produk dengan rancangan 

3.16. Memahami paparan deskriptif, naratif, argumentatif, atau persuasif tentang produk/jasa. 

3.17. Menentukan media promosi 

3.18. Menyeleksi strategi pemasaran 

3.19. Menilai perkembangan usaha 

3.20. Menentukan standard laporan keuangan 

Modul 14. Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

A.      Kompetensi Dasar 

3.14.    Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa 

B.       Indikator

3.14.1. Menjelaskan cara/tahapan pengujian fungsi produk barang/jasa 

3.14.2. Menjelaskan Prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa 

3.14.3. Mengidentifikasi komponen-komponen pengujian fungsi produk barang/jasa 

3.14.4. Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa 

C.      Materi Pokok 

1.         Dasar pengujian 

Paket software prototype diuji, diimplementasikan, dievaluasi dan dimodifikasi berulang-ulang hingga dapat diterima pemakainya (O’Brien, 2005). Pengujian system bertujuan menemukan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada system dan melakukan revisi sistem. Tahap ini penting untuk memastikan bahwa sistem bebas dari kesalahan (Mulyanto, 2009). 

Menurut Sommerville (2001) pengujian sistem terdiri dari : 

·           Pengujian unit untuk menguji komponen individual secara independen tanpa komponen sistem yang lain untuk menjamin sistem operasi yang benar. 

·           Pengujian modul yang terdiri dari komponen yang saling berhubungan. 

·           Pengujian sub sistem yang terdiri dari beberapa modul yang telah diintegrasikan. 

·           Pengujian sistem untuk menemukan kesalahan yang diakibatkan dari interaksi antara subsistem dengan interfacenya serta memvalidasi persyaratan fungsional dan non fungsional. 

·           Pengujian penerimaan dengan data yang dientry oleh pemakai dan bukan uji data simulasi. 

·           Dokumentasi berupa pencatatan terhadap setiap langkah pekerjaan dari awal sampai akhir pembuatan program. 

Pengujian sistem informasi berbasis web dapat menggunakan teknik dan metode pengujian perangkat lunak tradisional. Pengujian aplikasi web meliputi pengujian tautan, pengujian browser, pengujian usabilitas, pengujian muatan, tegangan dan pengujian malar  (Simarmata, 2009). 

Penerimaan pengguna (user) terhadap sistem dapat dievaluasi dengan mengukur kepuasan user terhadap sistem yang diujikan. Pengukuran kepuasan meliputi tampilan sistem, kesesuaian dengan kebutuhan user, kecepatan dan ketepatan sistem untuk menghasilkan informasi yang diinginkan user. Ada beberapa model pengukuran kepuasan user terhadap sistem, diantaranya adalah Technology Acceptance Model (TAM), End User Computing (EUC) Satisfaction, Task Technology Fit (TTF) Analysis dan  Human Organizational Technology (HOT) Fit Model. 

Salah satu model pengukuran yang telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa berbeda dan tidak menunjukkan perbedaan hasil pengukuran yang signifikan adalah End User Computing (EUC) Satisfaction. Model ini menekankan kepuasan user terhadap aspek teknologi meliputi aspek isi, keakuratan, format, waktu dan kemudahan penggunaan sistem (Chin & Mathew, 2000). 

2.         Proses Pengujian Produk Baru 

Pengujian produk baru bertujuan untuk memberikan penilaian yang lebih rinci tentang peluang sukses produk baru, mengidentifikasi berbagai penyesuaian akhir yang diperlukan untuk produk, dan menetapkan berbagai elemen penting dalam program pemasaran yang akan dipakai untuk memperkenalkan produk dipasar. Secara umum, terdapat 4 (empat) kegiatan dalam pengujian produk baru, yaitu sebagai berikut : 

1)        Technical Testing (Pengujian Teknis) 

Yaitu dengan cara membuat prototipe yang merupakan approximation (perkiraan) produk akhir. Pengujian atas kinerja produk prototipe dapat menghasilkan sejumlah informasi penting tentang product shelf life (usia pajang produk), tingkat keusangan produk, masalah yang timbul dari pemakaian atau konsumsi yang tidak seharusnya, potensi kerusakan yang memerlukan penggantian, dan jadwal pemeliharaan yang tepat. Masing-masing dari jenis informasi tersebut dapat mempunyai dampak biaya terhadap pemasaran produk. Contohnya seperti estimasi usia pajang produk bisa berpengaruh terhadap frekuensi dan biaya pengiriman. Lalu kemungkinan adanya masalah penggunaan yang signifikan dapat mengakibatkan perlunya tambahan informasi labeling, periklanan, dan sebagainya. 

2)        Pengujian Preference and Satisfaction Testing (Preferensi dan Kepuasan) 

Dipakai untuk menetapkan elemen-elemen yang akan dirancang dalam rencana pemasaran serta untuk membuat tafsiran penjualan awal produk baru. Secara umum terdapat dua cara utama yang dibutuhkan dalam tipe pengujian ini, yaitu pertama meminta konsumen untuk menggunakan sebuah produk selama jangka waktu tertentu, dan kemudian mereka diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan preferensi serta kepuasan mereka. Kedua, melaksanakan "blind test" yang sedemikian rupa sehingga konsumen dapat membandingkan berbagai macam alternatif produk tanpa mengetahui nama merek atau produsennya.

Pada dasamya, pengujian preferensi dan kepuasan akan memberikan sejumlah manfaat pokok, antara lain sebagai berikut : 

a.         Uji preferensi aktual dan uji teknis bisa memberikan dasar klaim yang obyektif untuk keperluan promosi, terlebih apabila perusahaan ingin menyajikan superioritas dalam hal persepsi konsumen atas keunggulan spesifik pada produk perusahaan dari pada pesaing. 

b.        Estimasi tingkat pembelian ulang sangat penting untuk memperkirakan pangsa pasar jangka panjang. Oleh karena itu hasil yang kurang bagus pada uji ini dapat berakibat pada pembatalan peluncuran produk maupun perancangan ulang produk baru. 

c.         Meskipun penerimaan pasar atas produk baru ditentukan oleh semua elemen program pemasaran, tetapi berbagai kasus menunjukkan bahwa skor yang tinggi dalam dimensi kinerja produk menggambarkan bahwa ide produk yang bersangkutan sebaiknya dilanjutkan pada tahap pengembangan produk baru selanjutnya. 

d.        Uji preferensi pada umumnya dapat memberikan signal awal terbaik terhadap kemungkinan terjadinya kanibalisasi produk. 

3)        Simulated Test Markets atau Laboratory Test Markets (Pengujian Pasar Simulasi) 

Yaitu prosedur riset pemasaran yang dibuat untuk memberikan gambaran yang murah dan cepat tentang pangsa pasar yang bisa diharapkan dari produk baru. Beberapa model yang dapat dipakai antara lain BASES, DESIGNOR, ASSESSOR, dan LITMUS. 

4)        Test Markets (Pengujian Pasar) 

Yaitu perusahaan akan menawarkan sebuah produk untuk dijual diwilayah pasar terbatas yang sebisa mungkin dapat mewakili keseluruhan pasar dimana produk itu nantinya akan dijual. Secara prinsip, terdapat perbedaan yang signifikan antara metode pengujian pasar untuk produk konsumen dan produk bisnis/industrial. Didalam pengujian produk konsumen, perusahaan akan berusaha mengestimasi empat variabel, yakni product trial (percobaan produk), first repeat (pengulangan pembelian pertama), adopsi produk, serta frekuensi pembelian. Tentunya perusahaan menginginkan bahwa semua variabel-variabel tersebut menunjukkan tingkat yang tinggi. 

Metode pokok untuk menguji pasar produk konsumen, adalah sebagai berikut : 

a.        Sales Wave Research 

Dalam metode sales wave research, konsumen yang pada awalnya mencoba sebuah produk secara gratis ditawarka lagi produk tersebut atau produk pesaing, dengan harga yang lebih murah. Kemudian perusahaan akan memperhatikan berapa kali konsumen memilih produk perusahaan serta tingkat kepuasan mereka. Metode ini juga mencakup usaha untuk mempresentasikan pada konsumen satu ataupun beberapa konsep iklan dalam bentuk kasar untuk mengamati dampaknya terhadap pembelian ulang. 

b.        Simulated Test Marketing 

Metode ini memerlukan 30 sampai 40 pembeli yang qualified dipusat pertokoan ataupun tempat-tempat lainnya. Perusahaan akan menanyakan beberapa hal kepada mereka, berhubungan dengan awareness dan preferensi mereka terhadap berbagai merek pada jenis produk tertentu. Mereka bisa saja diundang untuk menyaksikan iklan singkat, termasuk didalamnya yang sudah terkenal ataupun yang masih baru. Lalu dalam penayangan iklan tersebut disisipkan iklan produk baru. Kemudian konsumen akan diberi sejumlah uang lalu diminta untuk datang ke sebuah toko khusus dimana mereka bisa membelanjakan uang yang sudah diberikan tersebut sesuai kebutuhan. 

Perusahaan lalu mengamati dan memperhatikan jumlah konsumen yang membeli merek baru dan merek pesaing. Data ini akan memberikan gambaran tentang efektivitas iklan mereka atas iklan pesaing. Konsumen lalu diminta mengutarakan alasan-alasan mereka membeli ataupun tidak membeli. Lalu kemudaian beberapa minggu setelah itu mereka akan diwawancarai kembali melalui telepon untuk menentukan sikap mereka atas produk tersebut, kepuasannya, penggunaannya, dan minatnya untuk membeli kembali, dan ditawari kesempatan untuk membeli kembali produk yang bersangkutan. 

c.         Controlled Test Marketing 

Metode ini memungkinkan perusahaan untuk menguji pengaruh faktor dalam toko dan iklan terbatas pada perilaku pembelian konsumen tanpa harus melibatkan konsumen itu sendiri secara langsung. Sampel konsumen akan diwawancarai untuk mendapatkan kesan mereka terhadap produk yang bersangkutan. Perusahaan tidak harus memberikan potongan penjualan, memakai wiraniaga mereka sendiri, atau`membeli jaringan distribusi. Tetapi metode ini tidak dapat memberikan informasi tentang cara membujuk distributor agar mau menjual produk baru perusahaan. 

d.        Test Markets 

Uji pasar adalah cara utama dalam menguji sebuah produk baru dalam situasi yang sama dengan yang nantinya akan dihadapi dalam peluncuran produk yang bersangkutan. Perusahaan umumnya akan bekerja sama dengan perusahaan riset dalam menentukan kota dimana wiraniaga perusahaan nantinya akan mencoba membujuk para distributor agar bersedia untuk menjual produk perusahaan. Perusahaan melakuan promosi dan periklanan sama dengan yang akan dilaksanakan dalam pemasaran secara nasional. Biaya yang nantinya dibutuhkan tergantung pada jumlah kota, lama pengujian, serta jumlah data yang diinginkan perusahaan. 

Melalui uji pasar akan didapatkan beberapa manfaat, diantaranya adalah memberikan prediksi yang dapat diandalkan tentang penjualan dimasa yang akan datang, pengujian awal terhadap rencana pemasaran, mengetahui kekurangan produk, mendapat gambaran berbagai masalah potensial dalam jaringan distribusi, dan mendapat pemahaman lebih baik mengenai perilaku berbagai segmen pasar. 

Sementara, produk bisnis juga mendapatkan manfaat dari uji pasar, dimana pengujiannya bervariasi tergantung dari jenis barangnya. Barang industri yang mahal dan memakai teknologi baru pada umumnya menjalani pengujian Alpha dan Beta. Pengujian Alpha ialah pengujian produk dengan tujuan mengukur serta meningkatkan kinerja, rancangan, keandalan, dan biaya operasi produk. Apabila hasil pengujian alpha baik, maka perusahaan akan melanjutkannya dengan melakukan pengujian Beta dengan mengundang para konsumen potensial agar dapat melaksanakan pengujian secara rahasia ditempat mereka sendiri. 

Metode uji pasar lainnya ialah memperkenalkan produk bisnis baru dalam pameran dagang. Produk baru industrial juga dapat diuji ditempat pajangan distributor atau dealer. Cara lain yang bisa ditempuh ialah uji pemasaran, dimana perusahaan membuat pasokan produk dengan jumlah terbatas dan diserahkan pada wiraniaga untuk dijual didaerah geografis yang terbatas dengan dukungan katalog, promosi, dan sebagainya. Melalui cara demikian, manajemen akan dapat mempelajari apa saja yang mungkin terjadi dalam pemasaran dengan skala penuh serta memberikan informasi yang lebih lengkap dalam memutuskan komersialisasi produk yang bersangkutan. 

3.         Fungsi pengujian produk /jasa 

Tujuan tahap ini adalah untuk :  

(1)     memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru, 

(2)     mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk,

(3)     menetapkan elemen-elemen penting dalam program pemasaran yang akan digunakan untuk memperkenalkan produk di pasar. 


Referensi lain :

3.11. Menentukan indikator keberhasilan tahapan produksi massal

3.12. Menerapkan proses produksi massal

3.13. Menerapkan metoda perakitan produk barang/jasa

3.14. Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

3.15. Mengevaluasi kesesuaian hasil produk dengan rancangan 

3.16. Memahami paparan deskriptif, naratif, argumentatif, atau persuasif tentang produk/jasa. 

3.17. Menentukan media promosi 

3.18. Menyeleksi strategi pemasaran 

3.19. Menilai perkembangan usaha 

3.20. Menentukan standard laporan keuangan 

Modul 13. Menerapkan metoda perakitan produk barang/jasa

A.      Kompetensi Dasar

3.13.    Menerapkan metoda perakitan produk barang/jasa

B.       Indikator Pencapaian

3.13.1. Menjelaskan Metode perakitan produk barang/jasa

3.13.2. Memahami Metode perakitan produk barang/jasa

C.      Materi Pokok

1)        Pengertian Perakitan

Perakitan adalah suatu proses penyusunan dan penyatuan beberapa bagian komponen menjadi suatu alat atau mesin yang mempunyai fungsi tertentu. Pekerjaan perakitan dimulai bila obyek sudah siap untuk dipasang dan berakhir bila obyek tersebut telah bergabung secara sempurna. Perakitan juga dapat diartikan penggabungan antara bagian yang satu terhadap bagian yang lain atau pasangannya.

Pada prinsipnya perakitan dalam proses manufaktur terdiri dari pasangan semua bagian-bagian komponen menjadi suatu produk, proses pengencangan, proses inspeksi dan pengujian fungsional, pemberian nama atau label, pemisahan hasil perakitan yang baik dan hasil perakitan yang buruk, serta pengepakan dan penyiapan untuk pemakaian akhir. Perakitan merupakan proses khusus bila dibandingkan dengan proses manufaktur lainnya, misalnya proses permesinan ( frais, bubut, bor, dan gerinda ) dan pengelasan yang sebagian pelaksanaannya hanya meliputi satu proses saja. Sementara dalam perakitan bisa meliputi berbagai proses manufaktur.

2)        Metode perakitan.

Dalam produksi massal, proses perakitan dapat dilakukan dengan cara otomatis, misalnya proses pengikatan, pengelingan, pengelasan, penyekrupan, dan lain-lain dalam urutan rangkaian proses produksi. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan hasil pada setiap produk dengan bentuk yang standar.

Dalam perakitan terdapat beberapa metode yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan. Metode-metode tersebut adalah :

a)        Metode perakitan yang dapat ditukar tukar.

Pada metode ini, bagian-bagian yang akan dirakit dapat ditukarkan satu sama lain ( interchangeable ), karena bagian tersebut dibuat oleh suatu pabrik secara massal dan sudah distandarkan baik menurut ISO, DIN, JIS, dan lain sebagainya. Keuntungan bila kita menggunakan bagian atau komponen yang telah distandarkan adalah waktu perakitan komponen yang lebih cepat dan dalam penggantian komponen yang rusak dapat diganti dengan komponen yang sejenis yang ada di pasaran. Akan tetapi tetap mempunyai kerugian yaitu kita harus membeli komponen tersebut dengan harga yang relatif lebih mahal.

b)        Perakitan dengan pemilihan.

Pada metode perakitan dengan metode pemilihan, komponen-komponennya juga dihasilkan dengan produksi massal yang pengukuran-pengukurannya tersendiri menurut batasan-batasan ukuran.

c)         Perakitan secara individual.

Perakitan secara individual dalam pengerjaannya tidak dapat kita pisahkan antara pasangan satu dengan pasangannya. karena dalam pengerjaannya harus berurutan tergantung bagian yang sebelumnya. Salah satu komponen yang berpasangan tersebut kita selesaikan terlebih dahulu, kemudian pasangan lainnya menyusul dengan ukuran patokan yang diambil dari komponen yang pertama.

3)        Macam dan jenis perakitan.

Ada beberapa macam jenis perakitan yang sering digunakan di dunia industri, hal ini tergantung pada pekerjaan yang akan dilakukan. Biasanya faktor bentuk dan jumlah produk yang akan dihasilkan sangat menentukan. Pada umumnya ada dua macam jenis perakitan yaitu :

§   Perakitan Manual yaitu perakitan yang sebagian besar proses dikerjakan secara konvensional atau menggunakan  tenaga manusia dengan peralatan yang sederhana tanpa alat-alat bantu yang spesifik atau khusus.

§   Perakitan otomatis yaitu perakitan yang dikerjakan dengan sistem otomatis seperti otomasi, elektronik, mekanik, gabungan mekanik dan elektronik (mekatronik), dan membutuhkan alat bantu yang lebih khusus.

Sedangkan untuk jenis perakitan dapat dibedakan menurut jenis produk yang akan dilakukan perakitan yaitu :

Ø  Produk tunggal Jenis perakitan tunggal yaitu perakitan dengan produk hanya satu jenis saja

Ø  Produk seri Jenis perakitan produk seri adalah bila perakitan dilakukan dalam jumlah massal dalam bentuk dan ukuran yang sama. Contohnya proses perakitan produk elektronik, perakitan mobil, perakitan motor dan lain-lain.


Silahkan tonton Videonya:


Referensi lain :

3.11. Menentukan indikator keberhasilan tahapan produksi massal

3.12. Menerapkan proses produksi massal

3.13. Menerapkan metoda perakitan produk barang/jasa

3.14. Menganalisis prosedur pengujian kesesuaian fungsi produk barang/jasa

3.15. Mengevaluasi kesesuaian hasil produk dengan rancangan 

3.16. Memahami paparan deskriptif, naratif, argumentatif, atau persuasif tentang produk/jasa. 

3.17. Menentukan media promosi 

3.18. Menyeleksi strategi pemasaran 

3.19. Menilai perkembangan usaha 

3.20. Menentukan standard laporan keuangan