*Tiga Catatan di Pengujung Ramadhan*
Ramadhan tahun ini sudah hampir di tetes terakhir untuk kita nikmati.
Paling tidak ada tiga catatan yang patut kita garis bawahi selama menikmati Ramdhan tahun ini.
*Pertama, seliar apa pun nafsu kita, ia bisa didewasakan*.
Momentum Ramadan menyediakan tarbiyah khusus buat nafsu kita.
Allah Ta'ala berfirman : “…sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yunus : 53)
Di luar Ramadan, pintu-pintu aliran energi nafsu kerap terbuka lebar.
Kekuatan nafsu kian berkembang bersama energi yang diperoleh tubuh dari makan, minum, dan lain-lain. Bayangkan jika pintu-pintu itu tak pernah tertutup. Nafsu jadi kian liar.
Allah SWT menghadiahi shaum agar seorang mukmin bisa mendewasakan nafsu. Bisa menutup-buka pintu-pintu energinya.
Nafsu harus dipaksa. Agar, ia bisa dewasa. Semoga tarbiyah Rabbaniyah di bulan Ramadhan ini telah memdewasakan nafsu kita. Sehingga, pasca Ramadhan nanti kita bisa mengendalikan diri.
*Kedua, sekotor apa pun jiwa kita, ia bisa dibersihkan.*
Alur hidup persis seperti aliran air dalam pipa-pipa. Ada yang masuk, mengalir dan berproses hingga menjadi keluaran. Kian kotor masukan, makin banyak endapan yang melekat pada bagian dalam pipa.
Selama sebelas bulan, saringan-saringan masukan boleh jadi begitu longgar.
Semua bisa masuk. Mulai dari yang samar, kotor, bahkan beracun. Kalau saja tidak dipaksa ada saringan, proses pengeroposan menjadi sangat cepat. Jiwa-jiwa yang keropos akan membutakan mata hati.
Allah SWT berfirman : “Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami? Atau, telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karenasesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi hati yang di dalam dada.” (QS. Al Hajj : 46)
Jika aliran yang masuk melalui pipa mata, telinga, mulut, pikiran, dan rasa bisa tersaring jernih; tidak akan ada endapan. Ibadah yang sebelumnya berat menjadi ringan. Sangat ringan!
Allah SWT berfirman“ Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sungguh beruntung yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi yang mengotorinya.” (QS. As Syam: 7-10)
*Ketiga, sepicik apa pun ego kita, ia bisa dicerdaskan.*
Kadang manusia bangga berdiri di atas egonya. Seolah ia mengatakan, “Inilah saya!” Nalar berikutnya pun bilang, pusatkan semua kekuatan diri demi kepuasan ego. Walau sebenarnya, keakuan itu sudah melabrak nilai-nilai ketinggian Islam.
Karena ego, orang bisa menganggap kalau dirinyalah yang terbaik. Tak perlu masukan dan sumbang saran. Karena ego pula, orang menjadi tak perlu berjamaah.
Ramadhan memaksa ego untuk tunduk dengan kenyataan. Bahwa, yang ego banggakan ternyata tak sekuat yang dibayangkan.
Dalam bentuk yang lain, ego bisa ditundukkan dengan memperbanyak sujud. Itulah di antara makna qiyamul lail. Ketika sendiri, kemuliaan ego melalui simbol kepala secara terus-menerus disejajarkan dengan bumi. Suatu tempat di mana di situ ada kotoran, tempat berpijak kaki-kaki hewan, dan tempat berkumpul kotoran manusia. Ego dipaksa untuk melihat kenyataan diri. Bahwa, ia hanya seorang hamba.
Allah dalam firman-Nya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya...” (QS. Al Bayyinah : 5)
Ya Allah Al Waali, jadikan ramadhan tahun ini, bisa mengembalikan kesadaran kami, kel, shbt dan kel nya, bahwa tugas utama seorang hamba,adalah menyembah kepada-Mu.
Aamiin






No comments:
Post a Comment