Amalan sunnah memang bisa memenuhi kekurangan pada amalan yang wajib. Allah menganjurkan kita untuk menyelesaikan kekurangan yang ada pada amalan yang wajib dengan amalan sunnahnya. Oleh karena itu kita sangat tidak menolak untuk meremehkan hal-hal yang sunnah. Atau sangat cukup hanya karena sudah menunaikan amalan wajib.
Namun demikian kita juga tidak boleh mengutamakan amalan sunnah dan mengabaikan yang wajib. Bagaimanapun kondisinya, amalan yang wajib lebih utama dari amalan yang sunnah. Hal ini berlaku pada amalan ibadah apapun.
Lantas bagaimanakah jika terjadi fenomena yang mana seseorang terjerat gejala lebih semangat dan berambisi mengerjakan ibadah sunnah daripada yang sunnah? Dalam kitab Syarah Al Hikam disebutkan:
“Jika kau lebih semangat mengerjakan yang sunnah daripada yang wajib, maka itu adalah pertanda bahwa yang kau cari adalah kepuasan nafsumu (ingin dipuji), bukan keridaan Tuhanmu.”
Jika setiap amalan yang kerjakan hanya ingin dipuji atau menunaikan kepuasan belaka, maka kelezatan iman tak akan pernah dirasakan dalam hidupnya, karena yang diharapkan bukanlah ridha Allah.
Padahal dengan mengharap ridha Allah itulah yang menyebabkan kelezatan iman akan bisa dirasakan. Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya.” (HR Muslim)
Ya Allah Yang Maha Mematikan, beri ridho-Mu untuk semua amalan kami, kel, shbt dan kel nya, agar dapat merasakan kelezatan iman kami, dengan mendahulukan amalan² wajib...Aamiin.






No comments:
Post a Comment