Slider

Slider
teguhpriyanto. Theme images by kelvinjay. Powered by Blogger.

Pengantar

Ini blog bisnis dan pendidikan...
Mohon bantuannya untuk koreksi dan perbaikan serta tambahan materi....
Jangan lupa untuk like blog ini dengan cara klik G+ warna biru...
Mari berkembang dan maju bersama...terima kasih

Technology

Technology

Games

Games

Saturday, June 27, 2026

Memahami Makna Mubazir

Islam adalah agama yang penuh kasih serta sayang, hal tersebut bisa dilihat bagaimana Islam sangat menghormati sesuatu yang hal tersebut dianggap penting. Salah satunya ialah pelarangan terhadap hal-hal boros atau berprilaku berlebih-lebihan.


Sikap berlebih-lebihan ini oleh Islam disebut dengan Mubazir, yang mana hal itu sesungguhnya telah dan telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an sesuai firman Allah Ta'ala :

"Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra’: 27)


Pada ayat ini sesungguhnya kita diingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang berlebihan dalam pengeluaran, khususnya dalam hal harta. Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Tafsir Marah Labib menjelaskan bahwa pemborosan itu berarti menggunakan harta untuk tujuan yang salah, seperti perbuatan maksiat, kesombongan, atau untuk mencari popularitas dan pujian dari orang lain.


Prilaku mubazir pun memberikan dampak yang nyata kepada kehidupan kita, antara lain; 

*Pertama*, dapat menimbulkan kedurhakaan yaitu tidak mengsyukuri karunia yang telah diberikan oleh Allah Swt. 

*Kedua,* mengakitbatkan hidup boros karena selalu berlebihan-berlebihan.


Ya Allah Yang Maha Penemu, jagalah kami, kel, shbt dan kel nya dari perbuatan mubazir... Aamiin

Friday, June 26, 2026

Jangan Buat Setan Tertawa (Menguap)!

Perkara yang dianggap sepele, yang sudah menjadi kebiasaan kebayakan orang, padahal merupakan sebuah kekeliruan yang perlu diluruskan, adalah bersuara ketika menguap. Sepertinya sepele, tapi tunggu dulu sobat.

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa setan itu tertawa bila mendengar seorang bersuara “haah” ketika menguap. Apalagi kalau sampai teriak ?!


Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan membenci menguap. Oleh karena itu bila salah seorang dari kalian bersin lantas dia memuji Allah, maka wajib atas setiap muslim yang mendengarnya untuk ber-tasymit kepadanya (mengucapkan “yarhamukallah”). Adapun menguap, maka dia dari setan, bila seorang menguap hendaklah dia menahan semampunya. Bila seorang menguap sampai keluar ucapan ‘haaah’, setan akan menertawainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Inilah diantara adab yang perlu diperhatikan ketika menguap. Yaitu menahan semampunya, bila tidak mampu maka menutup mulut dengan tangan, kemudian adab selanjutnya adalah menahan suara ketika menguap.


Bila seorang membuat setan tertawa karena keisengannya mengeluarkan suara ketika menguap, berarti ia telah membuat setan bahagia. Karena tertawa merupakan ekspresi bahagia atau ridho. Ini jelas-jelas terlarang, terlebih setan adalah musuh yang senyata-nyatanya.

“..dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)

” Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak pengikutnya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Fathir: 6)


Ya Allah Yang Maha Mandiri, jagalah kami, kel, sbht dan kel nya dari perbuatan yang menggembirakan setan... Aamiin.

Thursday, June 25, 2026

Sholat Tidak Khusyuk, Haruskah Diulang?

Sholat tidak khusyuk mungkin pernah dialami kaum muslimin. 

Khusyuk memang bukan perkara mudah, butuh kebulatan hati dan bersungguh-sungguh dalam penyerahan diri kepada Allah. Bagaimana kalau kita merasa sholat tidak khusyuk, apakah perlu diulang?


Mari kita simak penjelasan berikut. Menurut Ustaz Farid Nu'man Hasan, tidak khusyuk bukan penyebab batalnya sholat karena Khusyuk bukan rukun sholat. Memikirkan hal duniawi dalam sholat meskipun tidak berdampak pada gerakan dan bacaan dalam sholat sebaiknya dihilangkan.


Sayyidina Umar bin Khathab radhiallahu 'anhu berkata: "Sesungguhnya saya mempersiapkan pasukan saya, pada saat itu saya sedang shalat." (HR. Al-Bukhari) 

Tentang ucapan Umar ini, Imam Al-Bukhari membuat judul: Bab Yufkiru Ar Rajulu Asy Syai’a fish shalah-"Seseorang memikirkan Sesuatu di Dalam Shalat"

Dari ‘Uqbah bin Al Harits katanya: "Aku sholat ashar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika Beliau Salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: "Aku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang sholat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman, maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi." (HR. Al-Bukhari)


Meski hal ini dibolehkan, namun tetaplah dihindari demi kebagusan kualitas shalat.

Rosulullah saw bersabda :

"Sesungguhnya ada orang yang selesai sholatnya tetapi tidak mendapatkan melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima seperempat, sepertiga, dan setengah dari shalatnya." (HR. Abu Daud )


Ya Allah Yang Maha Hidup berilah kemampuan kpd kami, kel, shbt dan kel nya untuk dapat khusuk dalam setiap sholat kami.. Aamiin

Wednesday, June 24, 2026

Lebih Berambisi Mengerjakan Amalan Sunnah daripada Wajib?

Amalan sunnah memang bisa memenuhi kekurangan pada amalan yang wajib. Allah menganjurkan kita untuk menyelesaikan kekurangan yang ada pada amalan yang wajib dengan amalan sunnahnya. Oleh karena itu kita sangat tidak menolak untuk meremehkan hal-hal yang sunnah. Atau sangat cukup hanya karena sudah menunaikan amalan wajib.


Namun demikian kita juga tidak boleh mengutamakan amalan sunnah dan mengabaikan yang wajib. Bagaimanapun kondisinya, amalan yang wajib lebih utama dari amalan yang sunnah. Hal ini berlaku pada amalan ibadah apapun.


Lantas bagaimanakah jika terjadi fenomena yang mana seseorang terjerat gejala lebih semangat dan berambisi mengerjakan ibadah sunnah daripada yang sunnah? Dalam kitab Syarah Al Hikam disebutkan:

“Jika kau lebih semangat mengerjakan yang sunnah daripada yang wajib, maka itu adalah pertanda bahwa yang kau cari adalah kepuasan nafsumu (ingin dipuji), bukan keridaan Tuhanmu.”


Jika setiap amalan yang kerjakan hanya ingin dipuji atau menunaikan kepuasan belaka, maka kelezatan iman tak akan pernah dirasakan dalam hidupnya, karena yang diharapkan bukanlah ridha Allah.


Padahal dengan mengharap ridha Allah itulah yang menyebabkan kelezatan iman akan bisa dirasakan. Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib, bahwa dia telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya.” (HR Muslim)


Ya Allah Yang Maha Mematikan, beri ridho-Mu untuk semua amalan kami, kel, shbt dan kel nya, agar dapat merasakan kelezatan iman kami, dengan mendahulukan amalan² wajib...Aamiin.

Tuesday, June 23, 2026

Langkah Menempuh Hidup Berkah

Setiap Muslim pasti mendambakan kehidupan yang penuh keberkahan, yakni kebaikan yang melimpah (al-khair al-wafir). 


Menurut Iman Maghazi al-Syarqawi, hidup penuh berkah itu dapat diaktualisasikan dengan meneladankan enam sikap dan sifat terpuji, yaitu :

*Pertama, membiasakan sifat malu yang positif.* 

Malu (al-haya') adalah kunci keutamaan sebab rasa malu membuat Muslim bersikap hati-hati untuk tidak berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah SAW pernah memberi nasihat kepada para sahabatnya. "Hendaklah kalian merasa malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya." Para sahabat menimpali, "Alhamdulillah, kami sudah merasa malu kepada Allah, ya Rasul."

Rasul lalu menyatakan, "Tidak, kalian belum merasa malu. Orang yang betul-betul merasa malu di hadapan Allah hendaklah menjaga kepala berikut isinya (pikiran positif), menjaga perut berikut isinya (makanan dan minuman yang halal dan thayib), dan mengingat mati serta musibah. Siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, hendaklah meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang sudah melakukan itu semua, berarti telah betul-betul memiliki rasa malu." (HR Tirmidzi).


*Kedua, bersyukur karena ia merupakan kunci peningkatan rezeki.*

Menurut Ibn Qayyim al-Jauziyah, syukur merupakan pujian dan pengakuan hamba terhadap nikmat Allah yang disertai rasa cinta dan ketaatan kepada-Nya. 

Allah SWT berfirman " Dan (inganlah) takala Tuhanmu memaklumkan"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"

(QS Ibrahim : 7).


*Ketiga, tutur kata dan komunikasi yang baik (al-kalam al-thayyib).* Hal ini merupakan kunci terbukanya hati dan pikiran. Komunikasi dan tutur kata yang baik adalah sedekah. Sedekah yang paling ringan dan mudah adalah memberi senyuman kepada sesama.

Rosulluloh bersabda :

"Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang jika kalian kerjakan, maka kalian akan dapat saling mencintai?, ‘Tebarkanlah salam di antara kalian’.” (HR Muslim).


*Keempat, berbakti kepada kedua orang tua.* Sikap ini merupakan kunci keridhaan dan kesuksesan hidup. Keridhaan dan doa orang tua merupakan pintu masuk segala kebaikan dan keberkahan hidup.


*Kelima, menghiasi diri dengan sifat qanaah (merasa berkecukupan).* Sifat ini merupakan kunci kekayaan. Orang yang bersifat qanaah tidak akan serakah dan egois sehingga ia tidak mudah tergoda oleh kekayaan duniawi.


*Keenam, konsisten dan teguh pendirian dalam berdoa.*

Doa adalah kunci segala kebaikan dan ketenteraman jiwa. Doa adalah kekuatan dan energi spiritual hamba kepada Allah. Dengan doa, seorang Muslim mengembalikan segala persoalan kepada Allah SWT.


Ya Allah Yang Maha Memulai, berilah kemampuan kpd kami, kel, shbt dan kel nya, untuk meraih hidup penuh berkah dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Mu dan mendekatkan diri dengan sesama.... Aamiin

Friday, June 19, 2026

Satu-satunya Amalan yang Pahalanya Tidak Terbatas

Jika seluruh amal saleh dilipatgandakan oleh Allah Ta'ala, ternyata ada satu amalan yang pahalanya tidak berbatas dan tiada terhingga. Barangsiapa yang mengamalkannya niscaya Allah sendiri yang mengganjarnya tanpa perhitungan hingga di akhirat sekalipun. Amalan apakah itu?


Ketahuilah bahwa amalan itu adalah sabar.Dalam bahasa Arab, sabar atau shobaro artinya menahan diri, tabah, bertahan dari sesuatu yang tidak berkenan di hati.Sabar merupakan adalah pilar kebahagiaan seorang hamba.


Mengenai keutamaan sabar ini dijelaskan dalam Al-Qur'an sebagaimana firman Allah:

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS Az-Zumar: 10)


Allah juga berfirman,

“Sungguh kami akan uji kalian dengan sedikit rasa takut, rasa lapar, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.”

Lalu Allah mengatakan,

“Bergembiralah untuk orang-orang yang sabar”

Siapa dia?

“Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, “kami milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah.” {QS. Al Baqoroh :155-156}


Said bin Jubair dari Ibn Abbas radhiyallahu 'anhu berkata Nabi Muhammad saw bersabda: "Pertama-tama orang yang akan dipanggil masuk surga ialah yang selalu memuji Allah mengucapkan Alhamdulillah atas kesenangan maupun kesulitan serta kesusahan."

 

Ya Allah Yang Maha Terpuji, berilah kepada kami, keluarga, sahabat dan keluarga nya kesabaran yang tak terbatas atas semua ujian yang Engkau berikan kepada kami.

Aamiin.

Sunday, June 14, 2026

6 Keutamaan bagi Orang-Orang yang Bertakwa

Semua manusia itu setara, yang membedakan adalah ketakwaannya kepada Allah swt. 

Takwa mengandung pengertian kepatuhan dan ketaatan dalam melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya.


Allah telah mempersiapkan kado terindah bagi siapa saja yang bertakwa.   

 *Pertama, al-ma‘iyah al-ilahiyah (kebersamaan Allah).* Orang-orang yang bertakwa akan selalu berada dalam perlindungan Allah swt. 

Firman Allah SWT : "Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah : 194).


*Kedua, al-‘ilm al-ladunni (ilmu dari sisi Allah)*

Firman Alloh SWT : "Dan bertakwalah kepada Allah; Allah akan mengajarimu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Baqarah : 282).


*Ketiga, al-furqan (pembeda)*.    

Firman Allah Ta'ala :

"Wahai orang-orang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan Furqaan (membedakan yang hak dan batil) bagimu dan menghapus segala kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Allah memiliki karunia yang besar (QS. Al-Anfal : 29).  


*Keempat, an-najatu minannari (keselamatan dari api neraka)*

Firman Allah SWT :

 "Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zhalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut (QS Maryam [19]: 72).


*Kelima, al-makhraju wa ar-rizqu (jalan keluar dari segala kesulitan dan rezeki)*    

Sesuai firman Allah: "Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka (QS Ath-Thalaq : 2-3).


*Keenam, al-wa’du bi al-jannah (dijanjikan surga)*  

Allah berfirman :

 "Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya" (QS Al-Qalam : 34). 

"Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (QS Maryam: 63).


Ya Allah Yang Maha Benar, jadikan kami, kel, shbt dan kel nya tergolong orang-orang yang bertakwa, untuk mendapatkan keutamaannya.... Aamiin.

Saturday, June 13, 2026

4 Indikator Takwa Menurut Ali bin Abi Thalib

*Indikator pertama* adalah memiliki keyakinan yang kuat kepada Allah swt dan meyakini seluruh ketentuan atau takdir-Nya.

Orang yang bertakwa adalah orang yang yakin dengan keberadaan Allah swt. Ia percaya bahwa segala yang terjadi dalam hidupnya merupakan bagian dari ketentuan Allah yang mengandung hikmah dan kebaikan. 


*Indikator kedua* adalah kesediaan untuk mengamalkan ajaran yang diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad SAW. Segala petunjuk yang dibawa Rasulullah saw hendaknya diamalkan. Dengan demikian, ajaran Islam tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan. 


*Indikator ketiga* adalah memiliki sifat qanaah dan sabar terhadap segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT, baik sedikit maupun banyak.  

Qanaah bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima dengan syukur apa yang Allah berikan setelah berikhtiar semaksimal mungkin. Sedikit maupun banyak, semuanya patut disyukuri. 


*Indikator keempat* adalah senantiasa menghitung diri dan mempersiapkan diri menghadapi datangnya kematian.

Kematian merupakan kepastian yang akan dialami setiap manusia. Karena itu, setiap orang hendaknya selalu melakukan muhasabah dan memperbanyak amal saleh sebagai bekal menghadap Allah SWT.  


Ya Allah Yang Maha Benar, kuatkan ketaqwaan kami, kel, shbt dan kel.nya.... Aamiin

Wednesday, June 10, 2026

Meraih Ridho Allah SWT dengan Lelah Kita

1. Lelah dalam berjihad di jalan Allah SWT. 

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS Taubah: 111).


2. Lelah dalam berdakwah menyampaikan syiar agama sesuai ajaran alquran dan hadits Rasul.

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang salih, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Fushshilat Ayat: 33).


3. Lelah dalam beribadah dengan kunci niat karena Allah SWT.

Beribadah juga bukan sekedar shalat, berpuasa, berzakat dan membaca alquran namun dengan bekerja mencari nafkah untuk kehidupan keluarga itu sudah dinilai sebagai ibadah.

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari) keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al Ankabut: 69).


4. Lelahnya seorang ibu mengandung.

Ridha dan cinta Allah SWT mengalir kepada seorang wanita yang berjuang penuh kesabaran dan tulus dalam menjaga kandungannya meskipun terasa berat dan lelah.

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS Luqman: 14).


5. Lelah dalam mencari nafkah yang halal.

"Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al Jumuah: 10).


6. Lelah mengurus keluarga. 

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai ( perintah ) Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS A-Tahrim: 6).


7. Lelah dalam menuntut ilmu.

"Tidak wajar bagi seseorang manusia yangb Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS Ali Imran: 79).


8. Lelah dalam kesusahan, kekurangan dan sakit.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah post gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah: 155).


Ya Allah Yang Maha Mulia, jadikan lelah² kami,kel,shbt dan kel nya bisa mendapat ridho-Mu..Aamiin.

Tuesday, June 9, 2026

SATU TANDA TANGAN DI DUNIA, SATU PERTANGGUNGJAWABAN DI AKHIRAT

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk berkumpul dalam majelis yang penuh keberkahan ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikut beliau hingga akhir zaman.

Ada profesi yang sehari-hari pekerjaannya terlihat sederhana: membaca berkas, memeriksa dokumen, menulis akta, memberikan pendapat hukum, lalu membubuhkan tanda tangan.

Tetapi sesungguhnya, di balik satu tanda tangan itu bisa berpindah rumah, berpindah tanah, berpindah perusahaan, berpindah hak waris, bahkan berubah nasib sebuah keluarga.

Karena itu, seorang mukmin harus selalu mengingat:

"Satu tanda tangan di dunia, satu pertanggungjawaban di akhirat."

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا

Innallāha ya'murukum an tu'addul-amānāti ilā ahlihā.

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya." (QS. An-Nisa: 58)

Jabatan, profesi, stempel, dan tanda tangan pada hakikatnya adalah amanah.

Mungkin di dunia tidak ada yang mengetahui bagaimana sebuah dokumen diproses.

Mungkin tidak ada yang tahu ada tekanan, ada iming-iming, atau ada kepentingan tertentu.

Tetapi Allah mengetahuinya.

Allah berfirman:

وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Wallāhu 'alā kulli syai'in syahīd.

"Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu." (QS. Al-Mujadilah: 6)


Ketika manusia lupa, Allah tidak lupa.

Ketika arsip hilang, catatan Allah tidak pernah hilang.

Ketika saksi meninggal, Allah tetap menjadi saksi.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Kullukum rā'in wa kullukum mas'ūlun 'an ra'iyyatihi.

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Seorang notaris akan ditanya tentang amanah akta yang dibuatnya.

Seorang advokat akan ditanya tentang kebenaran yang dibelanya.

Seorang pejabat akan ditanya tentang keputusan yang ditandatanganinya.

Seorang pemimpin akan ditanya tentang kebijakan yang dikeluarkannya.

Bahkan seorang ayah akan ditanya tentang surat-surat dan harta yang ditinggalkannya untuk anak-anaknya.

Di lapangan sering terjadi hal-hal yang tampaknya kecil, tetapi akibatnya sangat besar.

Ada ahli waris yang kehilangan hak karena dokumen yang tidak benar.

Ada tanah sengketa puluhan tahun karena satu data yang tidak jujur.

Ada orang miskin kehilangan rumah karena permainan administrasi.

Ada keluarga yang pecah karena pembagian warisan yang direkayasa.

Mungkin semua tampak selesai di dunia. Tetapi belum selesai di akhirat.

Sebab Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

Man ghasysyanā falaisa minnā.

"Barang siapa menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami." (HR. Muslim)

Ada kisah yang sering terjadi.

Seseorang menerima sejumlah uang agar mempercepat atau meloloskan sebuah proses.

Ia berpikir: "Ini hanya tanda tangan."

Padahal baginya hanya satu goresan pena.

Tetapi bagi orang lain bisa menjadi hilangnya hak, hilangnya keadilan, bahkan hilangnya masa depan.

Karena itu para ulama berkata: "Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat."

Tangan yang hari ini menandatangani dokumen akan menjadi saksi di hadapan Allah.

Allah berfirman:

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ

Al-yauma nakhtimu 'alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim.

"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami." (QS. Yasin: 65)

Bayangkan...

Jika suatu hari tangan yang biasa kita gunakan untuk membubuhkan tanda tangan itu berbicara di hadapan Allah.

Ia menceritakan semua yang pernah kita lakukan.

Yang benar maupun yang tidak benar.

Yang jujur maupun yang curang.

Yang ikhlas maupun yang karena suap.


Maka sebelum menandatangani apa pun, biasakan bertanya kepada hati:

"Apakah saya berani mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah?"

Jika jawabannya ragu, berhentilah. Karena kehilangan uang bisa dicari kembali. Kehilangan jabatan bisa diganti. Tetapi kehilangan keberkahan hidup sangat sulit dicari penggantinya.

Mari jadikan profesi kita sebagai jalan menuju surga, bukan jalan menuju penyesalan.

Karena pada akhirnya bukan banyaknya stempel yang akan menyelamatkan kita.

Bukan banyaknya klien yang akan menyelamatkan kita.

Bukan banyaknya perkara yang kita menangkan.

Tetapi kejujuran, amanah, dan ketakwaan yang kita bawa menghadap Allah.

Semoga Allah menjadikan tangan-tangan kita sebagai tangan yang menulis kebaikan, menegakkan keadilan, dan membawa keberkahan bagi banyak manusia.

Aamiin aamiin aamiin yaa robbal'alamin 


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.