Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita nikmat iman, nikmat Islam, nikmat makan, nikmat keluarga, dan nikmat bisa berkumpul dalam dzikir kepada-Nya.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Tetapi sesungguhnya, ada pelajaran besar di balik hari-hari ini:
Allah ingin mendidik kita agar menjadi manusia yang menikmati dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.
Karena banyak orang kaya tetapi hatinya miskin.
Banyak orang punya rumah besar tetapi hatinya sempit.
Banyak orang kenyang makanan, tetapi lapar ketenangan.
Dalil Tentang Hari Tasyrik
Rasulullah ﷺ bersabda
أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ
Ayyāmut tasyriqi ayyāmu aklin wa syurbin wa dzikrillāh.
“Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)
Islam tidak melarang makan enak. Islam tidak melarang memiliki harta. Islam tidak melarang menikmati dunia. Tetapi Islam melarang hati kita diperbudak oleh dunia.
Dunia Itu di Tangan, Jangan di Hati
Ada orang yang:
Bangun tidur langsung cek saldo, Gelisah kalau dagangan sepi, Marah besar kalau kehilangan uang, Tetapi tidak sedih saat terlambat shalat. Itulah tanda dunia mulai masuk ke hati.
Padahal Allah berfirman:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Wa mal-ḥayātud-dunyā illā matā‘ul-ghurūr.
“Kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Contoh Nyata di Masyarakat
1. Ada orang rela lembur demi uang, tetapi berat datang ke pengajian satu jam.
2. Ada yang takut kehilangan jabatan, tetapi tidak takut kehilangan iman.
3. Ada yang tiap tahun ganti HP, tetapi Al-Qur’annya berdebu.
4. Ada yang sibuk mencari daging qurban terbaik, tetapi lupa menyembelih: ego, kesombongan, sifat pelit, cinta dunia.
Padahal qurban terbesar itu adalah menaklukkan hawa nafsu.
Hari Tasyrik Mengajarkan Syukur
Ketika kita makan sate, gulai, tengkleng, Allah sedang mengajarkan:
“Nikmati nikmat-Ku, tapi jangan lupakan Aku.”
Karena ada orang: makan sambil main HP, tertawa sepanjang malam, tetapi lupa berdzikir kepada Allah. Padahal Rasulullah ﷺ mengatakan hari Tasyrik adalah hari dzikir.
Jangan Jadi Budak Dunia, Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ
Ta‘isa ‘abdu ad-dīnār wad-dirham.
“Celakalah hamba dinar dan dirham.”
(HR. Bukhari)
Bukan berarti uang itu haram. Tetapi celaka jika hidup hanya mengejar uang. Kalau uang hilang langsung stres, tetapi shalat hilang biasa saja, itu tanda hati mulai diperbudak dunia.
Hari Tasyrik mengajarkan kita: makanlah, tapi jangan rakus, punya harta, tapi jangan sombong, bekerja keras, tapi jangan lupa akhirat, nikmati dunia, tapi jangan diperbudak olehnya.
Karena suatu hari: rumah akan ditinggalkan, mobil akan diwariskan, rekening akan berpindah tangaan.
Tetapi amal, dzikir, dan hati yang ikhlas, itulah yang menemani kita di alam kubur.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang: pandai bersyukur, sederhana, tidak tamak, dan hatinya lebih cinta akhirat daripada dunia.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.






No comments:
Post a Comment